PENGARUH MENYANYI DAN MEMBACA TEKS
LAGU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL
- KOMUNIKASI PADA ANAK AUTIS SEBAGAI PENDAMPING TERAPI MUSIK VOKAL USIA 5 TAHUN
PROPOSAL PENELITIAN
Dosen Pengampu :
Dr. Yuliyati, M.Pd
Oleh
AZLENA
VIRA SAFITRI
NIM 14010044002
UNIVERSITAS
NEGERI SURABAYA
FAKULTAS
ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
2016
Usulan Penelitian
oleh : AZLENA VIRA SAFITRI
NIM : 14010044002
Judul : PENGARUH BERNYANYI DAN MEMBACA TEKS LAGU
DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SERTA PENDAMPING SPEECH TERAPI PADA ANAK
AUTIS USIA 13 TAHUN.
ini telah
disetujui dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diseminarkan.
Surabaya,
9 Desember 2016
Pembimbing,
Dr.
Yuliyati, M.Pd.
...........................................
NIP
195707121983032013
BAB
I
PENDAHULUAN
11.1 Latar Belakang
Kebutuhan tiap
individu untuk melakukan komunikasi merupakan manifestasi dari eksistensi
individu sebagai makhluk social. Kemampuan seseorang dalam melakukan komunukasi
menjadi kebutuhan yang mutlak harus terpenuhi dalam upaya mereka untuk melakukan
aktualisasi diri. Kemampuan komunikasi tersebut berlaku secara universal bagi
setiap individu dalam kebutuhan mereka untuk survive. Permasalahan komunikasi
sering terjadi pada mereka yang memiliki hambatan perkembangan baik secara
fisik maupun psikis dalam melakukan komunikasi. Kendala tersebut juga sering
terjadi pada anak yang mengalami hambatan autisme.
Salah satu
perilaku yang menjadi penanda utama dari anak yang baru didiagnosa mengalami
gangguan spektrum autisme adalah kurangnya kemampuan anak dalam sosial - komunikasi,
salah satunya adalah interaksi. Hal ini dapat dilihat dari minimnya frekuensi
anak dalam memberikan respon pada seseorang, apabila diajak berkomunikasi atau
berbicara. Dalam beberapa tipe anak autis, terdapat beberapa anak yang membeo
atau berekolalia. Namun dalam artian ini, mereka mengucapkan suatu kata yang
tidak jelas atau tidak dapat didengar oleh orang lain.
Cara
berkomunikasi yang paling efektif dan paling dominan dipergunakan oleh
masyarakat pemakainya adalah bentuk bahasa yang diucapkan atau diartikulasikan
Dengan komunikasi verbal manusia akan dengan mudah dan sesegera mungkin
memenuhi keinginan atau kebutuhannya (Sardjono, 2005 dalam Somad, 2009).
Salah satu
terapi yang dapat digunakan untuk anak autis ialah terapi musik vokal. Dimana
terapi musik vokal ini, dapat melatih kemampuan komunikasi anak. Sehingga anak
dapat menggembangkan sosialisasi terhadap lingkungan sekitarnya. Usia antara 2
– 5 tahun adalah usia yang sangat ideal untuk memulai menangani autisme. Salah
satu bentuk penanganan terhadap autis adalah terapi musik yang kini banyak
dipakai untuk anak – anak autis dan mereka yang memiliki kesulitan belajar.
Spesialis musik terapi, Robbin Nordoff dalam majalah Holmes mengklaim bahwa
anak autis, energinya akan meningkat ketika diperdengarkan musik tertentu.
Hal senada
dituturkan oleh seorang psikolog, Alfa Handayani dalam majalah Hidayat “Musik
mampu meningkatkan pertumbuhan otak anak karena musik itu sendiri merangsang
pertumbuhan sel otak. Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang
merupakan emosi positif. Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang
menjadi maksimal”.
Jika anak autis
diberi terapi musik sejak dini, maka kecerdasan emosional dan
intelegensinya berkembang lebih baik dibandingkan dengan anak autis yang tidak
mendapatkan terapi musik.
Ketika kita sedang bernyanyi, pernapasan kita
menjadi lebih terkendali karena diharuskan untuk mencapai nada-nada tertentu.
Hal ini akan membuat anak-anak menjadi lebih tenang dan emosinya lebih terkendali.
Bernyanyi juga merangsang aktivitas otak anak. Setelah mereka mendengar sebuah
lagu, dan mencoba menyanyikannya kembali karena suka, otak mereka bekerja untuk
mengingatnya kembali, lalu berusaha untuk menyanyikannya. Selain itu, bernyanyi
juga akan memperluas perbendaharaan kosakata mereka. Dianjurkan bagi ank-anak
untuk mengenal banyak kosakata yang sesuai dengan usia mereka. Dengan
mengetahui kata baru dan maksudnya, anak-anak akan semakin pandai berbicara dan
mengatur emosinya. Bernyanyi melepas hormon endorfin yang memperbaiki mood
anak-anak yang kadang tidak teratur. Bernyanyi di depan umum, bahkan di
lingkungan rumah pun akan membangun rasa percaya diri bagi anak-anak.
Kepercayaan diri sangat dibutuhkan di masa remaja dan dewasanya. Bernyanyi tentu
saja merangsang jiwa seni anak-anak. Bakat seni mereka akan perlahan-lahan
terlihat ketika melantunkan beberapa lagu.
Penelitian ini dapat sedikit menjawab
permasalahan yang ada di masyarakat terkait penanganan anak autis. Penelitian
ini diberi judul PENGARUH MENYANYI DAN MEMBACA TEKS LAGU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL -
KOMUNIKASI PADA ANAK AUTIS SEBAGAI PENDAMPING TERAPI MUSIK VOKAL USIA 5 TAHUN.
11.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas
rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah kemampuan sosial –
komunikasi dapat ditingkatkan dengan menyanyi dan membaca teks lagu yang
didampingi oleh terapi musik vokal pada anak autis usia 5 tahun.
11.3 Tujuan Penelitian
Sesuai rumusan masalah di atas,
tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan kemampuan
sosial - komunikasi pada anak autis usia 5 tahun setelah diberikan pengajaran
menyanyi dan membaca teks lagu sebagai pendamping terapi musik vokal.
11.4 Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian teori di atas,
maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
Terapi musik vokal melalui menyanyi dan membaca teks
lagu dapat meningkatkan kemapuan sosial – komunikasi anak autis usia 5 tahun.
11.5 Batasan Penelitian
Batasan penelitian merupakan fokus
penelitian agar penelitian tidak meluas dari judul yang telah dibuat, sehingga
tidak terjadi kesalahan pemahaman persepsi penafsiran judul, maka terdapat
batasan yaitu sebagai berikut :
a.
Subjek dalam penelitian ini adalah anak
yang memiliki gangguan autisme dan telah didiagnosa oleh seorang profesional
(psikiater atau neurolog), memiliki rentang usia kanak-kanak awal (4-6 tahun),
berada dalam spektrum severe autism dan memiliki kemampuan RJA < 80%.
Kemampuan RJA anak diukur dengan menggunakan Early Social Communication Scales
(ESCS). Total partisipan dalam penelitian ini adalah dua anak autis.
b.
Waktu pertemuan penelitian yaitu selama
sepuluh kali pertemuan yang setiap pertemuan berlangsung selama dua kali 35
menit.
c.
Dalam penelitian ini terapi musik vokal
dengan menyanyi dan membaca teks lagu diterapkan untuk membantu peningkatan kemampuan
sosial - komunikasi. Dengan target anak dapat melakukan kegiatan sosial –
komunikasi dengan orang disekitarnya, melalui dengan pelatihan menyanyi dan
membaca teks lagu.
d.
Penelitian ini hanya berlaku untuk anak
autis dengan rentang usia kanak-kanak awal (4-6 tahun).
11.6 Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat
yang dapat ditinjau dari segi teoritis maupun praktis, yaitu :
1.
Manfaat teoritis
Secara
teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam mengembangkan
ilmu komunikasi yakni dalam pengembangan interaksi atau sosial – komunikasi
anak autis.
2.
Manfaat praktis
a.
Bagi mahasiswa
Penelitian
ini diharapkan menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan
pengembangan penelitian serupa tentang persepsi terhadap peserta didik autis.
b.
Bagi pendidik
Bagi
Pendidik penelitian ini dapat dijadikan sebagai bentuk informasi tentang kemampuan
sosial - komunikasi pada anak autis.
c.
Bagi tenaga kependidikan
Bagi
tenaga kependidikan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bentuk informasi
tentang sosial – komunikasi pada anak autis.
11.7 Asumsi Penelitian
Asumsi merupakan anggapan yang
digunakan sebagai berikut :
a.
Setiap anak mengalami perkembangan sosial
- komunikasi terhadap sosialnya begitupun anak autis.
b.
Anak autis merupakan visual learning
sehingga konsep terapi musik vokal cocok diberikan untuk anak autis.
c.
Konsep terapi musik vokal merupakan
konsep yang menyenangkan dan menarik perhatian siswa.
BAB
II
KAJIAN
PUSTAKA
22.1 Anak Autis
2.1.1
Pengertian
Autisme
Kata
autisme berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu ‘aut’ yang
berarti ‘diri sendiri’ dan ‘ism’ yang
secara tidak langsung menyatakan
‘orientasi atau arah atau keadaan (state). Sehingga autism dapat
didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya
sendiri (Reber, 1985 dalam Trevarthen dkk, 1998). Pengertian ini menunjuk pada
bagaimana anak-anak autis gagal bertindak dengan minat pada orang lain, tetapi
kehilangan beberapa penonjolan perilaku mereka. Ini, tidak membantu orang lain
untuk memahami seperti apa dunia mereka.
Autis
pertama kali diperkenalkan dalam suatu makalah pada tahun 1943 oleh seorang
psikiatris Amerika yang bernama Leo
Kanner. Ia menemukan sebelas anak yang memiliki
ciri-ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi
dengan individu lain dan sangat tak acuh
terhadap lingkungan di luar dirinya, sehingga perilakunya tampak seperti hidup
dalam dunianya sendiri.
Autisme
mengacu pada problem dengan interaksi sosial, komunikasi, dan bermain
imajinatif, yang mulai muncul sejak anak berusia di bawah 3 tahun. Mereka
mempunyai keterbatasan pada level aktivitas dan interest. Hampir 75% dari anak
autis mengalami beberapa derajat Retardasi Mental. Autisme biasanya muncul
sejak tiga tahun pertama kehidupan seorang anak (Priyatna, 2010).
Autis
merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anak pada anak yang ditandai
munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi,
ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya. Autisme merupakan kelainan
perilaku yang penderitanya hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri.
Autis dapat terjadi di semua kalangan masyarakat (Veskarisyanti, 2008).
Autis
adalah Suatu keadaan dimana seseorang anak berbuat semaunya sendiri baik cara
berpikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda,
biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Autisme bisa mengenai siapa saja, baik yang
sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak atau dewasa dan semua etnis (Yatim,
2007).
Autis
merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang berhubungan dengan
komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya tampak pada
sebelum usia tiga tahun. Bahkan apabila autis infantil gejalanya sudah ada
sejak bayi. Autis juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari
kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak
fungsifungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan
perasaan (feeling). Autis jugs dapat dinyatakan sebagai suatu kegagalan dalam
penalaran sistematis (systematic reasoning). Dalam suatu analisis
‘microsociological’ tentang logika pemikiran mereka dan interaksi dengan yang
lain (Durig, 1996; dalam Trevarthen, 1998), orang autis memiliki kekurangan
pada ‘cretive induction’ atau membuat penalaran induksi yaitu penalaran yang
bergerak dari premis-premis khusus (minor) menuju kesimpulan umum, sementara
deduksi, yaitu bergerak pada kesimpulan khusus dari premis-premis (khusus) dan
abduksi yaitu peletakan premis-premis umum pada kesimpulan khusus, kuat.
(Trevarthen, 1998).
DSM
IV (Diagnpstic Statistical Manual yang dikembangkan oleh para psikiater dari
Amerika) mendefinisikan anak autis sebagai berikut:
1.
Terdapat paling sedikit enam pokok dari
kelompok a, b dan c, meliputi sekurang-kurangnya: satu item dari kelompok a,
sekurang-kurangnya satu item dari kelompok b, sekurang-kurangnya satu item dari
kelompok.
a)
Gangguan kualitatif dalam interaksi
sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua diantara berikut :
1)
Memiliki kesulitan dalam mengunakan
berbagai perilaku non verbal seperti, kontak mata, ekspresi muka, sikap tubuh,
bahasa tubuh lainnya yang mengatur interaksi sosial.
2)
Memiliki kesulitan dalam mengembangkan
hubungan dengan teman sebaya atau teman yang sesuai dengan tahap perkembangan
mentalnya.
3)
Ketidakmampuan untuk berbagi kesenangan,
minat, atau keberhasilan secara spontan
dengan orang lain (seperti; kurang tampak adanya perilaku
memperlihatkan, membawa atau menunjuk objek yang menjadi minatnya).
4)
Ketidakampuan dalam membina hubungan
sosial atau emosi yang timbal balik.
b)
Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi
yang ditunjukkan oleh paling sedikit satu dari yang berikut :
1)
Keterlambatan dalam perkembangan bicara
atau sama sekali tidak (bukan disertai dengan mencoba untuk mengkompensasikannya
melalui cara-cara komunikasi alternatif seperti gerakan tubuh atau lainnya).
2)
Bagi individu yang mampu berbicara,
kurang mampu untuk memulai pembicaraan atau memelihara suatu percakapan
dengan yang lain.
3)
Pemakaian bahasa yang stereotipe atau
berulang-ulang atau bahasa yang aneh (idiosyncantric).
4)
Cara bermain kurang bervariatif, kurang mampu bermain
pura-pura secara spontan, kurang mampu meniru secara sosial sesuai dengan tahap
perkembangan mentalnya.
c)
Pola minat perilaku yang terbatas,
repetitive, dan stereotype seperti yang ditunjukkan oleh paling tidak satu dari
yang berikut :
1)
Keasikan dengan satu atau lebih
pola-pola minat yang terbatas dan stereotipe baik dalam intensitas maupun dalam
fokusnya.
2)
Tampak tidak fleksibel atau kaku dengan
rutinitas atau ritual yang khusus, atau yang tidak memiliki manfaat.
3)
Perilaku motorik yang stereotip dan
berulang-ulang (seperti : memukul-mukulkan atau menggerakgerakkan tangannya atau mengetuk-ngetukan jarinya,
atau menggerakkan seluruh tubuhnya).
4)
Keasikan yang menetap dengan bagian-bagian
dari benda (object).
2.
Perkembangan abnormal atau terganggu
sebelum usia tiga tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi
yang abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut:
3.
Sebaiknya tidak dikelompokkan ke dalam
Rett Disorder, Childhood Integrative Disorder, atu Asperger Syndrom.
Dari uraian di atas dapat
disimpulkan bahwa anak autis yaitu anak-anak yang mengalami kesulitan
perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsi-fungsi: persepsi
(perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling) yang
terjadi sebelum umur tiga tahun dengan dicirikan oleh adanya hambatan
kualitatif dalam interaksi sosial, komunikasi dan terobsesi pada satu kegiatan
atau obyek yang mana mereka memerlukan layanan pedidikan khusus untuk
mengembangkan potensinya.
2.1.2
Klasifikasi
Autis
Menurut
Veskarisyanti (2008), ada beberapa klasifikasi autisme, diantaranya :
1. Aloof
Anak
dengan autisme dari tipe ini senantiasa berusaha menarik diri dari kontak sosial,
dan cenderung untuk menyendiri di pojok.
2. Passive
Anak
dengan autisme tipe ini tidak berusaha mengadakan kontak sosial melainkan hanya
menerima saja.
3. Active but odd
Sedangkan
pada tipe ini, anak melakukan pendekatan namun hanya bersifat repetitif dan aneh.
2.1.3
Perilaku
Anak Autis
Autisme
merupakan sindroma yang sangat kompleks. Ditandai dengan ciri-ciri kurangnya
kemampuan interaksi sosial dan emosional, sulit dalam komunikasi timbale balik,
minat terbatas, dan perilaku tidak disertai gerakan berulang tanpa tujuan
(stereo-tipic).
1.
Perilaku
Sosial
Perilaku
sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan dan berinteraksi dalam
seting sosial. Tinjauan tentang kesulitan (deficits) sosial pada anakanak autis
baru-baru ini muncul (Hawlin, 1986 dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Anak-anak
autis yang nonverbal telah diketahui
bahwa mereka mengabaikan (ignore) orang lain, memperlihatkan masalah umum dalam
bergaul dengan orang lain secara sosial. Ekspresi sosial mereka terbatas pada
ekspresi emosi-emosi yang ekstrim, seperti menjerit, menangis atau tertawa yang
sedalam-dalamnya.
Anak-anak
autis tidak menyukai perubahan sosial atau gangguan dalam rutinitas sehari-hari
dan lebih suka apabila dunia mereka tetap sama. Apabila terjadi perubahan
mereka akan lebih mudah marah, contoh: mereka akan marah apabila mengambil rute
pulang dari sekolah yang berbeda dari yang biasa dilewati, atau posisi furnitur
di dalam kelas berubah dari semula.
Anak-anak
autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang dirinya sendiri (self-stimulating)
seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping) mengayun-ayun tangan ke depan
dan kebelakang, membuat suara-suara yang tetap (ngoceh), atau menyakiti diri
sendiri (self-inflicting injuries) seperti menggaruk-garuk, kadang sampai
terluka, menusuk-nusuk. Perilaku merangsang diri sendiri (self-stimulating)
lebih sering terjadi pada waktu yang berbeda dari kehidupan anak atau selama
situasi sosial berbeda (Iwata et all, 1982 dalam Kathleen Ann Quill, 1995).
Perilaku ini lebih sering lagi terjadi pada saat anak autis ditinggal sendiri
atau sedang sendirian daripada waktu dia sibuk dengan tugas-tugas yang harus
dikerjakannya, dan berkurang setelah anak belajar untuk berkomunikasi. (Carr
& Durrand, 1985; dalam Kathleen Ann Quill, 1995).
2.
Perilaku
Komunikasi
Bahasa
termasuk pembentukan kata-kata, belajar aturan-aturan untuk merangkai kata-kata
menjadi kalimat dan mengetahui maksud atau suatu alasan menggunakan bahasa.
Bahasa merupakan sesuatu yang abtrak. Pemahaman bahasa memerlukan fungsi
pendengaran yang baik dan persepsi pendengaran yang baik pula. Bahasa pragmatis
yang merupakan penerjemahan (interpreting) dan penggunaan bahasa dalam konteks
sosial, secara pisik (physical) dan konteks linguistik. Pragmatis dan
komunikasi berhubungan erat, untuk menjadi seorang komunikator yang berhasil
seorang anak harus memiliki pengetahuan tentang bahasa yang dipergunakannya
sama baiknya dengan pemahaman tentang manusia dan dimensi dunia yang bukan
manusia.
Komunikasi
lebih daripada kemampuan untuk bicara atau kemampuan untuk merangkai kata-kata
dalam urutan yang tepat (Wilson, 1987 Kathleen Ann Quill, 1995). Komunikasi
adalah kemampuan untuk membiarkan orang lain mengetahui apa yang diinginkan
oleh individu, menjelaskan tentang suatu kejadian kepada orang lain, untuk
menggambarkan tindakan dan untuk
mengakui keberadaan atau kehadiran orang lain. Komunikasi dapat dilakukan
secara verbal dan nonverbal. Komunikasi dapat dijalin melalui gerakan tubuh,
melalui tanda isarat atau dengan menunjukkan gambar atau kata-kata. Secara
tidak langsung komunikasi menyatakan suatu situasi sosial antara dua individu
atau lebih.
Dalam
komunikasi orang yang membawa pesan disebut pemrakarsa (initiator) sedangkan
orang yang mendengarkan pesan disebut penerima pesan. Pesan bergantian antara
pemrakarsa dan penerima pesan. Untuk memenuhi kemampuan (competent) dalam
keterampilan pragmatis anak harus mengetahui dan memahami kedua peran tersebut,
sebagai premrakarsa dan sebagai penerima pesan. (Watson, 1987, dalam Kathleen
Ann Quill, 1995). Banyak anak autis yang memiliki kesulitan dalam pragmatis
(Baron, Cohen, 1988 dalam Kathleen, 1995). Untuk peran pemrakarsa dalam berkomunikasi,
anak autistik memiliki kesulitan dalam memulai percakapan atau pembicaraan
(Feidstein, Konstantereas, Oxman, & Webster, 1982 dalam Kathleen Ann Quill,
1995). Ketika berbicara, mereka cenderung meminta orang dewasa untuk
mengambilkan mainan, makanan atau minuman, mereka jarang menyampaikan tindakan
yang komunikatif seperti menjawab orang lain, mengomentari sesuatu, mengungkapan
perasaan atau menggunakan etika sosial seperti pengucapan terimakasih, atau
meminta maaf.
Anak-anak
autis yang non verbal sering menjadi penerima informasi dan merespon pada orang
tua dan guru mereka meminta dengan perlakuan (deal) yang konsisten. Contoh
orang dewasa bertanya:”Kamu mau makan apa?”. Dan anak mungkin menjawab dengan
memperlihatkan gambar kue atau dengan menggambar kue atau bahkan mungkin dengan
kata-kata. Ini sutu peningkatan komunikasi karena anak mengakui orang dewasa
sebagai teman dalam meningkatkan komunikasi dan memahami permintaan guru yang
ditujukan padanya. Dalam permintaan ini anak sebagai penerima dan penjawab
permintaan itu. (Kathleen Ann Quill, 1995).
Ada
beberapa perilaku yang diperlukan dan harus dimiliki oleh seorang anak autis
yang nonverbal agar menjadi seorang komunikator yang berhasil yaitu pemahaman
sebab akibat, keinginan berkomunikasi, dengan siapa dia berkomunikasi, ada
sesuatu untuk dikomunikasikan dan makna dari komunikasi. Di dalam komunikasi
apabila seorang anak tidak memahami sebab, dia akan mengalami kesulitan dalam
meminta seseorang untuk melakukan sesuatu atau membantunya untuk mengambil
benda di tempat penyimpanan (rak) yang paling tinggi. Tanpa penalaran sebab
akibat anak tidak dapat meminta suatu tindakan atau benda dari orang lain.
Memiliki keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain merupakan tugas yang
sulit untuk anak-anak yang nonverbal, selama satu dari tantangan utama mereka
adalah ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain dalam cara yang
diharapkan. Mereka tidak mengakui atau memperlihatkan ketertarikan pada orang
lain. Alasan utama dari pernyataan ini karena miskinnya hubungan sebab akibat
yang telah dibicarakan di atas. Jika seorang anak tidak memahami bahwa
seseorang dapat membantunya atau anak tidak memahami bahwa tindakan akan mengakibatkannya
mendapatkan sesuatu.
Sering
kali guru berperan sebagai pemrakarsa dalam meningkatkan komunikasi dengan anak
autis dan anak biasanya jadi responder. Anak harus belajar menunggu dengan
sabar supaya guru menunjukkannya dan dia akan menerima yang dinginkannya. Anak
perlu kesempatan untuk meminta benda dengan bebas atau mengawali percakapan.
Jika anak autis tidak memiliki sesuatu untuk dibicarakan dia akan tetap tidak
berkomunikasi (noncomunicatif). Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan
bahwa prilaku komunikasi anak autistik yang menghambat interaksinya dengan
orang lain, dapat ditunjukkan dengan perilaku yang nampak seperti: mengabaikan
orang lain (tidak merespon apabila diajak berbicara), tidak dapat
mengekspresikan emosi secara tepat (tidak tertawa melihat yang lucu, tidak
memperlihatkan perasaan senang, takut, atau sakit, dalam mimik mukanya),
terobsesi dengan kesamaan (kaku), tidak mampu mengungkapkan keinginannya secara
verbal atau mengkompensasikannya dalam gerakan, sulit untuk memulai percakapan
atau pembicaraan, jarang melakukan tindakan yang komunikatif, jarang
menggunakan kata-kata yang menunjukkan etika sosial, atau mengungkapkan
perasaan atau mengomentari sesuatu, echolalia (membeo), nada bicara monoton,
salah menggunakan kata ganti orang.
Menurut
Safaria (2005), menyebutkan 2 jenis perilaku autisme, yaitu :
1)
Perilaku berlebihan (excessive) :
a)
Perilaku melukai diri sendiri
(self-abuse), seperti memukul, menggigit, dan mencakar diri sendiri.
b)
Agresif, seperti perilaku menendang,
memukul, menggigit, dan mencubit.
c)
Tantrum, seperti perilaku menjerit, menangis,
dan melompatlompat.
2)
Perilaku berkekurangan (deficit)
Yang
ditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial kurang sesuai, deficit sensoris
sehingga terkadang anak dianggap tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak
tepat misalnya tertawa tanpa sebab, menangis tanpa sebab, dan melamun.
2.1.4
Penyebab
Autis pada Anak
1. Faktor Genetik
Lebih
kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik. Penyakit
genetik yang sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis
(17-58%) dan sindrom fragile X (20-30%). Disebut fragile-X karena secara
sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang tampak seperti
patahan diujung akhir lengan panjang kromosom X 4. Sindrome fragile X merupakan
penyakit yang diwariskan secara X-linked (X terangkai) yaitu melalui kromosome
X. Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak seperti penyakit dengan pewarisan
X-linked lainnya, karena tidak bisa digolingkan sebagai dominan atau resesi,
laki-laki dan perempuan dapat menjadi penderita maupun pembawa sifat
(carrier). (Dr. Sultana MH Faradz,
Ph.D, 2003).
2. Ganguan pada Sistem Syaraf
Banyak
penelitian yang melaporkan bahwa anak autis memiliki kelainan pada hampir semua
struktur otak. Tetapi kelainan yang paling konsisten adalah pada otak kecil.
Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinye di otak kecil pada
autisme. Berkurangnya sel purkinye diduga dapat merangsang pertumbuhan akson,
glia dan myelin sehingga terjadi pertumbuhan otak yang abnormal, atau
sebaliknya pertumbuhan akson yang abnormal dapat menimbulkan sel purkinye mati.
(Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K), 2003).
Otak
kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik, juga sebagai
sirkuit yang mengatur perhatian dan pengindraan. Jika sirkuit ini rusak atau
terganggu maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat,
seperti misalnya sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku.
3. Kerusakan Jaringan Otak
Patricia
Rodier, ahli embrio dari Amerika menyatakan bahwa korelasi antara autis dan
cacat lahir yang disebabkan oleh Thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan
jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin.
Peneliti lainnya, Minshe, menemukan bahwa pada anak yang terkena autis, bagian
otak yang mengendalikan pusat memori dan emosi menjadi lebih kecil daripada
anak normal.
Penelitian
ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester
ketiga saat kehamilan, atau pada saat kelahiran bayi. Karin Nelson, ahli
neorology Amerika mengadakan penyelidikan terhadap protein otak dari contoh
darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi yang normal
mempunyai kadar protein tinggi, yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar
protein tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental
(Huzaemah, 2010).
4.
Terlalu
banyak vaksin Hepatitis B
Ada
pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B bisa mengakibatkan
anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat
pengawet Thimerosal.
5.
Kombinasi
makanan atau lingkungan yang salah
Autis
disebabkan kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi
zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar, yang
mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis. Beberapa
teori yang didasarkan oleh beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk
mencari penyebab dan proses terjadinya autis.
6. Ketidakseimbangan Kimiawi
Beberapa
peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala autistik berhubungan dengan
makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Alergi terhadap makanan tertentu,
seperti bahan-bahan yang mengandung susu, tepung gandum, daging, gula, bahan
pengawet, penyedap rasa, bahan pewarna, dan ragi.
Untuk
memastikan pernyataan tersebut, dalam tahun 2000 sampai 2001 telah dilakukan
pemeriksaan terhadap 120 orang anak yang memenuhi kriteria gangguan autisme
menurut DSM IV. Rentang umur antara 1 – 10 tahun, dari 120 orang itu 97 adalah
anak laki-laki dan 23 orang adalah anak perempuan. Dari hasil pemeriksaan
diperoleh bahwa anak anak ini mengalami gangguan metabolisme yang kompleks, dan
setelah dilakukan pemeriksaan untuk alergi, ternyata dari 120 orang anak yang
diperiksa: 100 anak (83,33%) menderita alergi susu sapi, gluten dan makanan
lain, 18 anak (15%) alergi terhadap susu dan makanan lain, 2 orang anak (1,66
%) alergi terhadap gluten dan makanan lain. (Dr. Melly Budiman, SpKJ, 2003).
Penelitian
lain menghubungkan autism dengan ketidakseimbangan hormonal, peningkatan kadar
dari bahan kimiawi tertentu di otak, seperti opioid, yang menurunkan persepsi
nyeri dan motivasi.
7. Kemungkinan Lain
Infeksi
yang terjadi sebelum dan setelah kelahiran dapat merusak otak seperti virus
rubella yang terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan kerusakan otak.
Kemungkinan yang lain adalah faktor psikologis, karena kesibukan orang tuanya
sehingga tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak, atau anak tidak
pernah diajak berbicara sejak kecil, itu juga dapat menyebabkan anak menderita
autisme.
2.1.5
Hambatan-hambatan
pada Anak Autis
Ada
beberapa permasalahan yang dialami oleh anak autis yaitu: Anak autis memiliki
hambatan kualitatif dalam interaksi sosial artinya bahwa anak autistik memiliki
hambatan dalam kualitas berinteraksi dengan individu di sekitar lingkungannya,
seperti anak-anak autis sering terlihat menarik diri, acuh tak acuh, lebih senang bermain sendiri,
menunjukkan perilaku yang tidak hangat, tidak ada kontak mata dengan orang lain
dan bagi mereka yang keterlekatannya terhadap orang tua tinggi, anak akan
merasa cemas apabila ditinggalkan oleh orang tuanya.
Sekitar
50 persen anak autis yang mengalami keterlambatan dalam berbicara dan
berbahasa. Mereka mengalami kesulitan dalam memahami pembicaran orang lain yang
ditujukan pada mereka, kesulitan dalam memahami arti kata-kata dan apabila
berbicara tidak pada konteks yang tepat. Sering mengulang kata-kata tanpa
bermaksud untuk berkomunikasi, dan sering salah dalam menggunakan kata ganti
orang, contohnya menggunakan kata saya untuk orang lain dan menggunakan kata
kamu untuk diri sendiri.
Mereka
tidak mengkompensasikan ketidakmampuannya dalam berbicara dengan bahasa yang
lain, sehingga apabila mereka menginginkan sesuatu tidak meminta dengan bahasa
lisan atau menunjuk dengan gerakan tubuh, tetapi mereka menarik tangan orang
tuanya untuk mengambil obyek yang diinginkannya. Mereka juga sukar mengatur
volume suaranya, kurang dapat menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi, seperti:
menggeleng, mengangguk, melambaikan tangan dan lain sebagainya.
Anak
autis memiliki minat yang terbatas, mereka cenderung untuk menyenangi
lingkungan yang rutin dan menolak perubahan lingkungan, minat mereka terbatas
artinya mereka apabila menyukai suatu perbuatan maka akan terus menerus
mengulang perbuatan itu. anak autistik juga menyenangi keteraturan yang
berlebihan.
Lorna
Wing (1974) menuliskan dua kelompok besar yang menjadi masalah pada anak autis
yaitu:
a)
Masalah dalam memahami lingkungan (Problem
in understanding the world).
1)
Respon terhadap suara yang tidak biasa
(unusually responses to sounds). Anak autis seperti orang tuli karena mereka
cenderung mengabaikan suara yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada
yang menjatuhkan benda di sampingnya. Anak autis dapat juga sangat tertarik
pada beberapa suara benda seperti suara bel, tetapi ada anak autis yang sangat
tergangu oleh suara-suara tertentu, sehingga ia akan menutup telinganya.
2)
Sulit dalam memahami pembicaraan
(Dificulties in understanding speech). Anak autis tampak tidak menyadari bahwa
pembicaraan memiliki makna, tidak dapat mengikuti instruksi verbal, mendengar
peringatan atau paham apabila dirinya dimarahi (scolded). Menjelang usia lima
tahun banyak autis yang mengalami keterbatasan dalam memahami pembicaraan.
3)
Kesulitan ketika bercakap-cakap
(Difiltuties when talking). Beberpa anak autis tidak pernah berbicara, beberapa
anak autis belajar untuk mengatakan sedikit kata-kata, biasanya mereka
mengulang kata-kata yang diucapkan orang lain, mereka memiliki kesulitan dalam mempergunakan kata
sambung, tidak dapat menggunakan kata-kata secara fleksibel atau mengungkapkan
ide.
4)
Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara
(Poor pronunciation and voice control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan
dalam membedakan suara tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan dengan
kata-kata yang hampir sama, memiliki kesulitan untuk mengucapkan kata-kata yang
sulit. Mereka biasanya memiliki kesulitan dalam mengontrol kekerasan (loudness)
suara.
5)
Masalah dalam memahami benda yang
dilihat (Problems in understanding things that are seen). Beberapa anak autis
sangat sensitif terhadap cahaya yang sangat terang, seperti cahaya lampu kamera
(blitz), anak autis mengenali orang atau benda dengan gambaran mereka yang umum
tanpa melihat detil yang tampak.
6)
Masalah dalam pemahaman gerak isarat
(problem in understanding gesturs). Anak autis memiliki masalah dalam
menggunakan bahasa komunikasi; seperti gerakan isarat, gerakan tubuh, ekspresi
wajah.
7)
Indra peraba, perasa dan pembau (The
senses of touch, taste and smell). Anak-anak autis menjelajahi lingkungannya
melalui indera peraba, perasa dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak
sensitif terhadap dingin dan sakit.
8)
Gerakan tubuh yang tidak biasa
(Unusually bodily movement). Ada gerakangerakan yang dilakukan anak autis yang
tidak biasa dilakukan oleh anakanak yang normal seperti mengepak-ngepakan
tangannya, meloncat-loncat, dan menyeringai.
9)
Kekakuan dalam gerakan-gerakan terlatih
(clumsiness in skilled movements). Beberapa anak autis, ketika berjalan nampak
anggun, mampu memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang lainnya lebih
kaku dan berjalan seperti memiliki bebrapa kesulitan dalam keseimbangan dan
biasanya mereka tidak menikmati memanjat. Mereka sangat kurang dalam koordinasi
dalam berjalan dan berlari atau sebaliknya.
b)
Masalah gangguan perilaku dan emosi
(Dificult behaviour and emotional problems).
1)
Sikap menyendiri dan menarik diri
(Aloofness and withdrawal). Banyak anak autis yang berprilaku seolah-olah orang
lain tidak ada. Anak autis tidak merespon ketika dipanggil atau seperti tidak
mendengar ketika ada orang yang berbicara padanya, ekspresi mukanya kosong.
2)
Menentang perubahan (Resistance to
change). Banyak anak autis yang menuntut pengulangan rutinitas yang sama.
Beberapa anak autis memiliki rutinitas mereka sendiri, seperti mengetuk-ngetuk
kursi sebelum duduk, atau menempatkan objek dalam garis yang panjang.
3)
Ketakutan khusus (Special fears).
Anak-anak autis tidak menyadari bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka
tidak memahami kemungkinan konsekuensinya.
4)
Perilaku yang memalukan secara sosial
(Socially embarrassing behaviour). Pemahaman anak autis terhadap kata-kata
terbatas dan secara umum tidak matang, mereka sering berperilaku dalam cara
yang kurang dapat diterima secara sosial. anak-anak autis tidak malu untuk
berteriak di tempat umum atau berteriak dengan keras di senjang jalan.
5)
Ketidakmampuan untuk bermain (Inability
to play). Banyak anak autis bermain dengan air, pasir atau lumpur selam
berjam-jam. Mereka tidak dapat bermain pura-pura. Anak-anak autis kurang dalam
bahasa dan imajinasi, mereka tidak dapat bersama-sama dalam permainan denga
anak-anak yang lain.
22.2 Sosial - Komunikasi
2.2.1
Interaksi
Sosial Anak Autis
Wing dan Gould (Abdul Hadis, 2006: 52)
mengklasifikasikan anak autis menjadi tiga kelompok, yaitu grup aloof,
grup pasif, dan group aktif tetapi aneh.
Pertama, grup aloof merupakan
ciri yang klasik dan banyak diketahui orang. Anak autis pada kelompok ini
sangat mnutup diri untuk berinteraksi dengan orang lain, anak autis biasanya
merasa tidak nyaman dan marah. Anak autis juga menghindari kontal fisik dan
sosial, walaupun kadang - kadang masih mau bermain bermain secara fisik. Sejak
dini anak autis menunjukan perilaku enggan berinteraksi sosial dengan orang
lain. Anak autis yang berumur kurang dari satu tahun, menunjukan perilaku tidak
membutuhkan orang lain, sangat tenang di tempat tidurnya, sangat seikit melakukan
komunikasi dua arah dan tidak menjulurkan tangan untuk dipeluk. Anak autis
klasifikasi grup aloof sangat sulit meniru suatu gerakan yang bermakna, seperti
melambai, mengangguk, dan sebagainya.
Kedua, grup pasif merupakan
jenis anak autis yang tidak berinteraksi secara spontan, tetapi tidak menolak
usaha interaksi dari pihak lain, bahkan kadang-kadang menunjukan rasa senang.
Kelompok anak autis ini dapat diajak bermain bersama, tetapi tanpa imajinasi,
berulang, dan terbatas. Anak autis dalam grup ini merupakan grup yang paling
mudah ditangani. Kemampuan anak di grup pasif lebih tinggi jika dibandingkan dengan
anak autis di grup aloof. Anak autis dengan jenis ini biasanya sering
tidak dikenal secara dini, karena cirinya adalah tidak adanya interaksi sosial yang spontan dan
gangguan komunikasi non verbal, dibandingkan dengan perilaku yang sangat sulit
pada grup loof.
Ketiga, grup aktif tetapi aneh
merupakan kelompok anak autis yang bisa mendekati orang lain, mencoba berkata
atau bertanya tetapi bukan untuk kesenangan atau untuk tujuan interaksi sosial
secara timbal balik. Kemampuan anak autis dalam mendekati orang lain biasanya
berbentuk fisik, sangat melekat terhadap orang lain, walaupun orang lain
tersebut tidak menyukainya. Kemampuan bicaranya sering kali lebih baik jika dibandingkan
dengan kedua grup lainnya. Anak autis grup ini sering senang dengan komputer
dan menonton televisi, sehingga keterpakuannya itu menyebabkan anak mengabaikan
hal yang lain, tanpa arti dan tidak berguna bagi kehidupan. Orang tua sering
tidak sadar adanya kelainan yang dialami oleh anak dan baru tereteksi saat
sudah besar, walaupun sebenarnya gejala sudah ada sejak lama. Grup ini sering
menimbulkan masalah diagnosis, karena kadang ciri autisnya menonjol dan kadang
tidak begitu terlihat. Bila dihubungkan dengan DSM-IV, biasanya grup ini cocok
dengan sindrom Asperger atau Atypical Autistic Disorder.
2.2.2
Komunikasi
Anak Autis
Menurut Susman (Joko Yuwono, 2009: 7) perkembangan
anak autis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu cara anak berinteraksi, cara
anak berkomunikasi, alasan di balik komunikasi yang dilakukan anak dan tingkat
pemahaman anak. Selanjutnya ia menuliskan bahwa perkembangan komunikasi anak
autis melalui empat tahap berikut :
Pertama, the own agenda stage. Pada tahap ini anak cenderung bermain sendiri dan
tampak tidak tertarik pada orang-orang sekitar. Anak belum memahami bahwa
dengan komunikasi dapat mempengaruhi orang lain. Untuk mengetahui keinginan
anak autis, kita dapat memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi wajahnya. Anak
autis dapat berinteraksi cukup lama dengan orang yang dikenalnya, namun anak
autis akan kesulitan berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya. Anak autis
akan menangis atau berterik bila terganggu aktivitasnya.
Kedua, the requester stage. Pada tahap ini anak autis sudah menyadari bahwa
perilakunya dapat mempengaruhi orang lain. Bila menginginkan sesuatu anak autis
akan menarik tangan dan mengarah ke benda yang diinginkannya. Aktivita yang
biasanya disukai masih bersifat fisik : bergulat, ciluk ba, lari, lompat, dan
sebagainya. Pada umumnya anak pada tahap ini sudah dapat memproduksi suara
tetapi bukan untuk berkomunikasi melainkan untuk menenangkan diri. Anak dapat
merespon sederhana namun konsisten, ia juga dapat melakukan kegiatan yang bersifat
rutinitas.
Ketiga, the early communication stage. Dalam tahap ini kemampuan berkomunikasi anak autis
lebih baik karena melibatkan gesture, suara dan gambar. Anak autis dapat
berinteraksi cukup lama dan dapat menggunakan satu bentuk komunikasi meski
dalam situasi khusus. Inisiatif anak dalam berkomunikasi masih terbatas seperti
: makan, minum, dan sebagainya. Pada tahap ini anak autis mulai mengulang-ulang
hal-hal yang didengar, mulai memahami isyarat visual atau gambar dan memahami kalimat - kalimat sederhana yang
diucapkan.
Keempat, the partner stage. Pada tahap ini merupakan fase yang paling efektif.
Bila kemampuan berkomunikasinya baik, maka anak autis berkemungkinan dapat
melakukan prcakapan sederhana. Anak dapat menceritakan kejadian yang telah
lalu, meminta keinginan yang belum terpenuhi dan mengekspresikan perasaannya.
Namun demikian anak masih cenderung menghafal kalimat dan sulit menemukan topik
baru dalam percakapan. Kemampuan komunikasi yang baik akan membantu anak autis memahami
dan menyampaikan informasi, meminta sesuatu yang ia suka, menyampaikan dan
mengekpresikan keinginannya. Anak autis memiliki kesulitan dalam berkomunikasi
sekalipun dalam bahasa isyarat ataupun gesture. Anak autis kesulitan
untuk menyampaikan pesan dan menerima pesan.
Komunikasi anak autis sangat berbeda dengan komunikasi
anak lainnya. Anak autis kesulitan dalam memahami konsep sehingga jarang merespon
tugas. Mereka juga kesulitan dalam menyampaikan pesan kepada orang lain, anak
autis mungkin hanya mondar-mandir dan diam saja hal lain yang mungkin terjadi
adalah menangis atau mengamuk. Anak autis yang sudah bisa berbicara, sebagian
besar hanya menggunakan kalimat pendek dengan kosakata sederhana, namun kosa katanya
terbatas dan bicaranya sulit dimengerti. Sehingga banyak kosakata yang
diucapkan tidak dapat dipahami oleh orang lain. Anak autis juga sering kali
menirukan ucapan orang lain dan mengulang-ulang kata.
22.3 Musik
2.3.1
Pengertian Musik
Musik adalah
bunyi yang diatur menjadi pola yang dapat menyenangkan telinga kita atau
mengkomunikasikan perasaan atau suasana hati. Musik mempunyai ritme, melodi,
dan harmoni yang memberikan kedalaman dan memungkinkan penggunaan beberapa
instrumen atau bunyi-bunyian (Oxford Ensiklopedi Pelajar, 2005) Bernstein &
Picker (1972) mengatakan bahwa musik adalah suara-suara yang diorganisasikan
dalam waktu dan memiliki nilai seni dan dapat digunakan sebagai alat untuk
mengekspresikan ide dan emosi dari komposer kepada pendengarnya.
Pendapat lain
dari Eagle mengatakan musik sebagai organisasi dari bunyi atau suara dan
keadaan diam (sounds and silences) dalam alur waktu dan ruang tertentu
(Eagle Jr, 1996).
Musik adalah
seni penataan bunyi secara cermat yang membentuk pola teratur dan merdu yang
tercipta dari alat musik atau suara manusia. Musik biasanya mengandung unsur
ritme, melodi, harmoni, dan warna bunyi (Syukur, 2005).
Dari defenisi
diatas dapat disimpulkan bahwa musik adalah bunyi yang diatur menjadi sebuah
pola yang tersusun dari bunyi atau suara dan keadaan diam (sounds
and silences) dalam alur waktu dan ruang tertentu dalam urutan, kombinasi,
dan hubungan temporal yang berkesinambungan sehingga mengandung ritme, melodi,
warna bunyi, dan keharmonisan yang biasanya dihasilkan oleh alat musik atau
suara manusia yang dapat menyenangkan telinga dan mengekspresikan ide,
perasaan, emosi atau suasana hati.
2.3.2
Respons terhadap
musik
Abeles
(Hargreaves, 1986) mengatakan bahwa terdapat tiga tahap respons terhadap musik
yang dapat diidentifikasi, yaitu:
a. Respons
emosional terhadap musik
Respon
emosional adalah mood atau emosi yang dirasakan ketika mendengar musik.
Respon emosional merupakan respon yang paling sedikit terjadi internalisasi
terhadap musik yang didengar. Pada respon emosional ini pendengar telah
memberikan partisipasi aktif terhadap musik yang didengar.
b. Respons
berdasarkan preferensi musik
Respons
berdasarkan preferensi musik adalah tindakan memilih, menghargai, atau
memberikan prioritas terhadap satu jenis musik dibandingkan jenis musik
lainnya.
c. Respons
berdasarkan selera musik
Selera
musik merupakan komitmen jangka panjang seseorang terhadappreferensi musiknya,
yang ditandai dengan perilaku seperti adanya kebiasaan membeli rekaman-rekaman
baik dalam bentuk kaset, compact disc, dan sebagainya.
2.3.3
Musik
Vokal
Music vocal, artinya karya music
yang dilantunkan dengan vocal. Music vocal lazim pula disebut identik dengan
menyanyi, mengingat seni vocal dapat berlaku pula bagi mereka yang mendalami
seluk beluk vocal bagi kegiatan drama, MC, dan presenter. Vocal drama sangat
jelas sekali. Yang satu musical, yang satu lagi tidak musical. Yang satu lebih
bebas bereksplorasi, sedangkan yang satu lagi memiliki keterikatan musical.
Seseorang yang memiliki keinginan
menjadi penyanyi amatir, apalagi professional, tidak cukup hanya bermodalkan
warna suara yang bagus. Sekalipun memang, warna suara yang khas sangat penting
dimiliki oleh seorang penyanyi. Lebih dari itu, ia perlu memiliki wawasan
praktis tentang seni music, bahkan wawasan praktis tentang seni music, bahkan
wawasan pengetahuan akan seni music. Tidak sedikit kita menemukan seorang MC
atau presenter yang saat berbicara atau berbincang-bincang di atas stage
suaranya sangat memikat. Namun, begitu ia menyanyi, keadaannya sangat berbeda.
Bagi MC atau presenter mana pun
yang memiliki masalah seperti tadi, dianjurkan untuk banyak tahu dan banyak
belajar seni music. Sungguh amat disayangkan, apabila modal yang sudah sangat
baik itu tidak diasah secara musical. Kalaupun dari pengetahuan dan praktik
musical tadi tidak akan membuatnya menjadi penyanyi, namun paling tidak,
kegiatan music vokalnya akan sangat membantunya mampu berbicara atau berdialog
secara musical.
Kelemanahan yang paling menonjol
pada dunia presenter kita, termasuk kebanyakan pemain sinetron serta dramawan
kita – saat dirinya tampil – suaranya datar-datar saja, atau kurang memiliki
kehangatan intinasi karena kurang terbekali jiwa musiknya.
TEKNIK VOCAL adalah : Cara
memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang keluar terdengar
jelas, indah, merdu, dan nyaring.
UNSUR-UNSUR
TEKNIK VOCAL :
a. Artikulasi,
adalah cara pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas. Pernafasan adalah usaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya,
kemudian disimpan, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan
keperluan.
b. Pernafasan
di bagi tiga jenis, yaitu :
Pernafasan Dada: cocok untuk nada-nada
rendah, penyanyi mudah lelah.
Pernafasan Perut: udara cepat habis,
kurang cocok digunakan dalam menyanyi, karena akan cepat lelah.
Pernafasan Diafragma: adalah pernafasan
yang paling cocok digunakan untuk menyanyi, karena udara yang digunakan akan
mudah diatur pemakaiannya, mempunyai power dan stabilitas vocal yang baik.
Phrasering adalah : aturan pemenggalan
kalimat yang baik dan benar sehingga mudah dimengerti dan sesuai dengan
kaidah-kaidah yang berlaku.
Sikap Badan : adalah posisi badan ketika
seseorang sedang nyanyi, bisa sambil duduk, atau berdiri, yang penting saluran
pernafasan jangan sampai terganggu.
Resonansi adalah : usaha untuk
memperindah suara dengan mefungsikan rongga-rongga udara yang turut bervibrasi/
bergetar disekitar mulut dan tenggorokan.
Vibrato adalah : Usaha untuk memperindah
sebuah lagu dengan cara memberigelombang/ suara yang bergetar teratur, biasanya
di terapkan di setiap akhir sebuah kalimat lagu.
Improvisasi adalah usaha memperindah
lagu dengan merubah/menambah sebagian melodi lagu dengan profesional, tanpa
merubah melodi pokoknya.
Intonasi adalah tinggi rendahnya suatu
nada yang harus dijangkau dengan tepat.
c. Syarat-syarat
terbentuknya Intonasi yang baik :
Ø Pendengaran
yang baik
Ø Kontrol
pernafasan
Ø Rasa
musical.
Ø NADA
adalah bunyi yang memiliki getaran teratur tiap detiknya.
d. SIFAT
NADA ADA 4 (EMPAT) :
ü FITCH
yaitu ketepatan jangkauan nada.
ü DURASI
yaitu lamanya sebuah nada harus dibunyikan
ü INTENSITAS
NADA yaitu keras,lembutnya nada yang harus dibunyikan.
ü TIMBRE
yaitu warna suara yang berbeda tiap-tiap orang.
ü AMBITUS
SUARA adalah luas wilayah nada yang mampu dijangkau oleh seseorang.
Seorang penyanyi professional harus
mampu menjangkau nada-nada dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi
sesuai dengan kemampuannya.
CRESCENDO adalah suara pelan
berangsur-angsur keras.
DESCRESCENDO adalah suara keras
berangsur-angsur pelan.
STACATO adalah suara dalam bernyanyi
yang terpatah-patah.
e. SUARA
MANUSIA DIBAGI 3 (TIGA) :
Ø Suara
Wanita Dewasa ;
Sopran
(suara tinggi wanita)
Messo
Sopran (suara sedang wanita)
Alto
(suara rendah wanita)
Ø Suara
Pria Dewasa :
Tenor
(suara tinggi pria)
Bariton
(suara sedang pria)
Bas
(suara rendah pria)
Ø Suara
Anak-anak :
Tinggi
Rendah.
TANGGA NADA DIATONIS adalah
rangkaian 7 (tujuh) buah nada dalam satu oktaf yang mempunyai susunan tinggi
nada yang teratur. Tangga Nada Diatonis Mayor adalah Tangga Nada yang mempunyai
jarak antar nadanya 1 (satu) dan ½ (setengah).
Ø Ciri-ciri
tangga nada Diatonis Mayor :
Bersifat
riang gembira
Bersemangat
Biasanya
diawali dan diakhiri dengan nada Do = C
Mempunyai
pola interval : 1 , 1 ,. ½, 1 , 1 , 1, ½
Ø Ciri-ciri
Tangga nada Diatonis Minor :
Kurang
bersemangat.
Bersifat
sedih
Biasanya
diawali dan diakhiri dengan nada La = A
Mempunyai
pola interval : 1 , ½ , 1 , 1 , ½ , 1 , 1 .
TANGGA NADA KROMATIS adalah tangga
nada yang mempunyai jarak antar nadanya hanya ½ . Contoh : C – Cis – D – Dis- E
– F – Fis – G – Gis – A – Ais – B.
TANGGA NADA ENHARMNONIS adalah
rangkaian tangga nada yang mempunyai nama dan letak yang berbeda, tetapi mempunyai
tinggi nada yang sama. Contoh : Nada Ais-Bes, Cis-Des, Gis-As, Dis-Es, Fis-Ges.
APRESIASI yaitu Totalitas kegiatan
yang meliputi penglihatan, pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap
suatu karya seni.
BIRAMA adalah ketukan tetap yang
berulang-ulang pada sebuah lagu. Contoh birama : 2/4 , 3/4 , 4/4 , 6/8
PADUAN SUARA adalah Penyajian musik
vocal yang terdiri dri 15 orang atau lebih yang memadukan berbagai warna suara
menjadi satu kesatuan yang utuh dan dapat menampakan jiwa lagu yang dibawakan.
JENIS-JENIS PADUAN SUARA :
Ø Paduan
Suara UNISONO yaitu Paduan suara dengan menggunakan satu suara.
Ø Paduan
Suara 2 suara sejenis, yaitu paduan suara yang menggunakan 2 suara manusia yang
sejenis, contoh : Suara sejenis Wanita, Suara sejenis Pria, Suara sejenis
anak-anak.
Ø Paduan
Suara 3 sejenis S – S – A, yaitu paduan suara sejenis dengan menggunakan suara
Sopran 1, Sopran 2, dan Alto.
Ø Paduan
Suara 3 suara Campuran S – A – B, yaitu paduan suara yang menggiunakan 3 suara
campuran , contoh : Sopran, Alto Bass.
Ø Paduan
suara 3 sejenis T- T – B, yaitu paduan suara 3 suara sejenis pria dengan suara
Tenor 1, Tenor 2, Bass.
Ø Paduan
Suara 4 suara Campuran, yaitu paduan suara yang mengguanakan suara campuran
pria dan wanita, dengan suara S – A – T – B. Sopran, Alto, Tenor, Bass.
DIRIGEN / CONDUCTOR adalah orang
yang memimpin Paduan Suara. Syarat-syarat seorang Dirigen/ Conductor yang baik
:
Ø memiliki
sifat kepemimpinan
Ø memiliki
ketahanan jasmani yang tangguh
Ø sebaiknya
sehat jasmani dan rohani
Ø simpatik
Ø menguasai
cara latihan yang efektif
Ø memiliki
daya imajinasi yang baik
Ø memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan bermain musik.
TANDA DINAMIK adalah tanda utuk
menyatakan keras, lembutnya sebuah lagu yang dinyanyikan. Contoh-contoh Tanda
Dinamik :
Ø f
: forte = keras
Ø ff
: fortissimo = sangat keras
Ø fff
: fortissimo assai = sekeras mungkin
Ø mf
: mezzo forte = setemgah keras
Ø fp
: forte piano = mulai dengan keras dan diikuti lembut
Ø p
: piano = lembut
Ø pp
: pianissimo = sangat lembut
Ø ppp
: pianissimo possibile = selembut mungkin
Ø mp
: mezzo piano = setengah lembut
PERUBAHAN TANDA DINAMIKA :
Ø Diminuendo
(dim) : melembut
Ø Perdendosi
: melembut sampai hilang
Ø Smorzzande
: sedikit demi sedikit hilang
Ø Calando
: mengurangi keras
Ø Poco
a poco : sedikit demi sedikit / lambat laun
Ø Cresscendo
: berangsur-angsur keras
Ø Decrsescendo
: berangsur-angsur lembut
TANDA TEMPO adalah tanda yang
diguakan untuk menunjukan cepat atau lambatnya sebuah lagu yang harus
dinyanyikan.
TANDA TEMPO CEPAT :
Ø Allegro
: cepat
Ø Allegratto
: agak cepat
Ø Allegrissimo
: lebih cepat
Ø Presto
: cepat sekali
Ø Presstissimo
: secepat-cepatnya
Ø Vivase
: cepat dan girang
TANDA TEMPO SEDANG :
Ø Moderato
: sedang
Ø Allegro
moderato : cepatnya sedang
Ø Andante
: perlahan-lahan
Ø Andantino
: kurang cepat
TANDA TEMPO LAMBAT :
Ø Largo
: lambat
Ø Largissimo
: lebih lambat
Ø Largeto
: agak lambat
Ø Adagio
: sangat lambat penuh perasaan
Ø Grave
: sangat lambat sedih
Ø Lento
: sangat lambat berhubung-hubungan.
PERMATA / CORONA adalah tanda untuk
menambah hitungan menurut selera. Ada 3 jenis musik vokal :
Ø Solo
/tunggal
Ø Paduan
Suara Kecil : Duet, Trio, Kwartet, Kwintet, Sextet, dan Septet.
Ø Opera
: perpaduan musik vokal dengan drama
Ø Paduan
suara : Nyanyian yang dibawakan secara bersama-sama/berkelompok
NADA : suara yang beraturan
TANGGA NADA : nada yang telah diatur secara urut
berdasarkan tinggi rendahya suara (c-d-e-f-g-a-b-c’)
JENIS ALAT MUSIK :
Melodis
Harmonis
Ritmis
Penyajian
musik vocal
Musik
Vokal adalah musik yang dalam penyajiannya mengandalkan vokal atau suara
manusia. Bentuk musik vokal bermacam –macam, diantaranya adalah bentuk vocal
tunggal atau solo vokal , duet vokal, trio vokal, kwartet vokal, Vokal grup,
hingga dalam bentuk paduan suara.
Ø Solo
vokal
Adalah
bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan hanya oleh satu orang penyanyi.
Ø Duet
Adalah
bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan oleh dua orang penyanyi yang
biasanya menggunakan dua melodi suara yang berbeda.
Ø Trio
Adalah
bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan oleh tiga orang penyanyi yang
masing-masing sura / melodinya berbeda satu dengan lainnya.
Ø Kwartet
Adalah
bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan oleh empat orang penyayi yang
melodinya berbeda.
Ø Vokal
grup
Adalah
bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan paling sedikit empat orang yang
dengan harmoni empat suara dengan diiringi oleh alat musik pengiring. Alat
musik pengiring tersebut dapat berupa piano maupun gitar.
Ø Paduan
Suara
Adalah
bentuk terbesar dari penyajian musik vokal karena dapat dilakukan oleh minimal
15 orang yang biasanya dibagi menjadi empat suara.
22.4 Terapi Musik
2.4.1
Pengertian
Terapi Musik
Terapi
musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara
yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang
diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk
kesehatan fisik dan mental.
Musik
memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran
seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah terapi, musik dapat
meningkatkan, memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional,
sosial dan spiritual. Hal ini disebabkan musik memiliki beberapa kelebihan,
yaitu karena musik bersifat nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur,
dan universal. Perlu diingat bahwa banyak dari proses dalam hidup kita selalu
ber-irama. Sebagai contoh, nafas kita, detak jantung, dan pulsasi semuanya
berulang dan berirama. Terapi musik adalah terapi yang universal dan bisa
diterima oleh semua orang karena kita tidak membutuhkan kerja otak yang berat
untuk menginterpretasi alunan musik. Terapi musik sangat mudah diterima organ
pendengaran kita dan kemudian melalui saraf pendengaran disalurkan ke bagian otak
yang memproses emosi (sistem limbik).Pengaruh musik sangat besar bagi pikiran
dan tubuh manusia. Contohnya, ketika seseorang mendengarkan suatu alunan musik
(meskipun tanpa lagu), maka seketika orang tersebut bisa merasakan efek dari
musik tersebut. Ada musik yang membuat seseorang gembira, sedih, terharu,
terasa sunyi, semangat, mengingatkan masa lalu dan lain-lain.
Salah
satu figur yang paling berperan dalam terapi musik di awal abad ke-20 adalah
Eva Vescelius yang banyak mempublikasikan terapi musik lewat
tulisan-tulisannya. Ia percaya bahwa objek dari terapi musik adalah melakukan
penyelarasan atau harmonisasi terhadap seseorang melalui vibrasi. Demikian pula
dengan Margaret Anderton, seorang guru piano berkebangsaan Inggris, yang
mengemukakan tentang efek alat musik (khusus untuk pasien dengan kendala
psikologis) karena hasil penelitiannya menunjukkan bahwa timbre (warna suara)
musik dapat menimbulkan efek terapeutik.
2.4.2
Manfaat
Terapi Musik
Menurut Spawnthe Anthony
(2003), musik mempunyai manfaat sebagai berikut:
1. Efek Mozart, adalah salah satu istilah
untuk efek yang bisa dihasilkan sebuah musik yang dapat meningkatkan
intelegensia seseorang.
2. Refresing, pada saat pikiran seseorang
lagi kacau atau jenuh, dengan mendengarkan musik walaupun sejenak, terbukti dapat
menenangkan dan menyegarkan pikiran kembali.
3. Motivasi, adalah hal yang hanya bisa
dilahirkan dengan “feeling” tertentu. Apabila ada motivasi, semangatpun akan
muncul dan segala kegiatan bisa dilakukan.
4. Perkembangan
Kepribadian. Kepribadian seseorang
diketahui mempengaruhi dan
dipengaruhi oleh jenis musik yang didengarnya selama masa perkembangan.
5. Terapi, berbagai penelitian dan
literatur menerangkan tentang manfaat musik untuk kesehatan, baik untuk
kesehatan fisik maupun mental. Beberapa gangguan atau penyakit yang dapat
ditangani dengan musik antara lain : kanker, stroke, dimensia dan bentuk gangguan
intelengisia lain, penyakit jantung, nyeri, gangguan kemampuan belajar, dan
bayi prematur.
6. Komunikasi, musik mampu menyampaikan
berbagai pesan ke seluruh bangsa tanpa harus memahami bahasanya. Pada kesehatan
mental, terapi musik diketahui dapat memberi kekuatan komunikasi dan
ketrampilan fisik pada penggunanya.
2.4.3
Prosedur Terapi
Musik
Terapi musik tidak selalu membutuhkan kehadiran ahli terapi, walau mungkin
membutuhkan bantuannya saat mengawali terapi musik. Untuk mendorong
peneliti menciptakan sesi terapi musik sendiri, berikut ini beberapa dasar
terapi musik yang dapat anda gunakan untuk melakukannya.
1. Untuk
memulai melakukan terapi musik, khususnya untuk relaksasi, peneliti dapat
memilih sebuah tempat yang tenang, yang bebas dari gangguan. Peneliti dapat
juga menyempurnakannya dengan aroma lilin wangi aromaterapi guna membantu
menenangkan tubuh.
2.
Untuk mempermudah, peneliti dapat mendengarkan berbagai jenis musik pada
awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh responden. Lalu anjurkan
responden untuk duduk di lantai, dengan posisi tegak dan kaki bersilangan,
ambil
3. Saat
musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah – olah pemainnya
sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk responden. Peneliti bisa memilih
tempat duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone.
Tapi yang terpenting biarkan suara musik mengalir keseluruh tubuh responden,
bukan hanya bergaung di kepala.
4. Bayangkan
gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir ke
seluruh tubuh responden. Bukan hanya dirasakan secara fisik tapi juga fokuskan
dalam jiwa. Fokuskan di tempat mana yang ingin eneliti sembuhkan, dan suara itu
mengalir ke sana. Dengarkan, sembari responden membayangkan alunan musik itu
mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel – sel, melapisi
tipis tubuh dan organ dalam responden.
5. Saat
peneliti melakukan terapi musik, responden akan membangun metode ini melakukan
yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh
merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, responden
dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang telah dilakukan sebagai hal yang
paling berguna bagi diri sendiri.
6. Idealnya,
peneliti dapat melakukan terapi musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu
jam tiap hari, namun jika tak memiliki cukup waktu 10 menitpun jadi, karena
selama waktu 10 menit telah membantu pikiran responden beristirahat
(Pandoe,2006).
2.4.4
Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Terapi Musik
Beberapa hal yang perlu diperhatikan
dalam terapi musik :
1. Hindari interupsi yang
diakibatkan cahaya yang remang-remang dan hindari menutup gorden atau pintu.
2. Usahakan klien untuk
tidak menganalisa musik, dengan prinsip nikmati musik ke mana pun musik
membawa.
3. Gunakan jenis musik
sesuai dengan kesukaan klien terutama yang berirama lembut dan teratur.
Upayakan untuk tidak menggunakan jenis musik rock and roll, disco,
metal dan sejenisnya. Karena jenis musik tersebut mempunyai karakter berlawanan
dengan irama jantung manusia.
2.4.5
Terapi Musik Klasik untuk Anak Autis
Usia antara 2 – 5 tahun
adalah usia yang sangat ideal untuk memulai menangani autisme (Hadis,2006). Salah
satu bentuk penanganan terhadap autis adalah terapi musik yang kini banyak
dipakai untuk anak – anak autis dan mereka yang memiliki kesulitan belajar.
Spesialis musik terapi, Robbin, nordoff dalam Holmes (2003) mengklaim
bahwa anak yang frustasi, seperti halnya anak autis, energinya akan meningkat
ketika bermain musik.
Hal senada dituturkan oleh seorang
psikolog, Alfa handayani dalam Hidayat (2003) “Musik mampu meningkatkan
pertumbuhan otak anak karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel otak.
Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang merupakan emosi positif.
Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang menjadi
maksimal”. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan
berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak
yang jarang mendengarkan musik (Christanday,2007).
Salah satu Trend &
Issue saat ini mengenai terapi musik klasik adalah efek Mozart. Campbell
mendefinisikan efek Mozart sebagai berikut ;“The
Mozart Effect is an inclusive term signifying the transformational powers of
music in health, education, and well-being. It represents the general use of
music to reduce stress, depression, or anxiety; induce relaxation or sleep;
activate the body; and improve memory or awareness. Innovative and experimental
uses of music and sound can improve listening disorder, dyslexia, attention
deficit disorder, autism, other mental and physical disorders.
22.5 Kerangka Berpikir
BAB
III
METODE
PENELITIAN
3.1 Pendekatan dan rancangan Penelitian
Penelitian ini
menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Keterlibatan dan interaksi peneliti
kualitatif dengan realitas yang diamatinya merupakan salah satu ciri mendasar
dari metode penelitian ini. Jary and Jary mendefinisikan istilah qualitative
research techniques sebagai setiap penelitian dimana ilmuwan sosial
mencurahkan kemampuan sebagai pewawancara atau pengamat empatis dalam rangka mengumpulkan
data yang unik mengenai permasalahan yang ia investigasi, lihat David Jary and
Julia Jary, Dictionary of Sociology, (Glasgow: HarperCollins Publishers,
1991), hlm. 513.
Desain yang digunakan dalam penelitian
ini adalah studi kasus. Pada buku edisi kedua Creswell, Qualitative Inquiry
& Research Design Choosing Among Five Approaches, dikatakan bahwa
penelitian studi kasus melibatkan studi dari masalah yang dieksplorasi melalui
satu atau lebih kasus dalam sistem dibatasi (yaitu, pengaturan, konteks). Saya
memilih untuk melihatnya sebagai metodologi, jenis desain kualitatif
penelitian, atau objek studi, serta produk dari penyelidikan. Kasus penelitian
studi adalah pendekatan kualitatif di mana peneliti mengeksplorasi suatu kasus
atau beberapa dari waktu ke waktu, secara terperinci, pengumpulan data yang
mendalam, melibatkan berbagai sumber informasi (misalnya, observasi, wawancara,
materi audiovisual, dan dokumen dan laporan), dan laporan deskripsi kasus serta
tema berbasis kasus. (Creswell, 2007). Creswell menyebutkan betapa dekatnya
metode ini dengan peneliti peneliti bidang sosial, psikologi, hukum (kasus hukum), dan ilmu
politik (laporan kasus). Beberapa prosedur yang di simpulkan Creswell dari
tulisan ( Merriam, 1998; Stake, 1995; Yin, 2003).
3.2 Sumber Data Penelitian
Sumber data dari penelitian ini
adalah menggunakan sumber data primer. Dimana peneliti akan melakukannnya
sendiri dan meneliti secara langsung. Menurut Umar (2003 : 56), data primer
merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek
penulisan. Metode wawancara mendalam atau in-depth interview dipergunakan untuk
memperoleh data dengan metode wawancara dengan narasumber yang akan
diwawancarai.
3.3 Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat
atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar
pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti cermat, lengkap
dan sistematis sehingga mudah diolah, Sujarweni (2014:76). Sedangkan menurut
Arikunto (2010:192) instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan
suatu metode.
Dengan penggunaan penelitian kualitatif deskriptif, maka perlu dicantumkan
pedoman wawancara bagi peneliti. Instrumen penelitian:
PEDOMAN WAWANCARA
Orang
Tua Siswa
-
Bagaimana kondisi anak ketika lahir.
-
Bagaimana perkembangan anak ketika bayi
-
Apakah gejala yang ditunjukkan sebagai
identifikasi autis
-
Apa motivasi orang tua
-
Bagaimana mengembangkan kemampuan sosial
komunikasi anak
-
Apakah dengan musik, kondisi anak dapat
terkendali/membaik.
Guru
Musik
-
Apakah kesulitan yang dihadapi
-
Bagaimana kondisi kemampuan anak
-
Bagaimana perkembangan yang ditunjukkan
anak
-
Seberapa antusias anak mengikuti terapi
ini
3.4 Teknik Pengumpulan Data
Data adalah bahan-bahan kasar
(mentah) yang dikumpulkan peneliti dan lapangan yang ditelitinya juga merupakan
bahan-bahan spesifik yang menjadi lapangan dalam melakukan analisis.
Menurut Sujarweni (2014:74) teknik
pengumpulan data merupakan cara yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau
menjaring informasi kuantitatif dari responden sesuai lingkup penelitian.
Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah :
1.
Wawancara
Menurut Esterberg (2002) : Wawancara adalah merupakan pertemuan antara
dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat
dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
2.
Observasi
Menurut Arikunto (2010:199) observasi atau yang disebut pula dengan
pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan
menggunakan seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui
penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. Apa yang dikatakan
ini sebenernya adalah dapat dilakukan dengan tes, kuisioner, rekaman gambar,
rekaman suara.
3.
Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinta barang-barang
tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menggunakan metode
dokumentasi berupa foto selama kegiatan pembelajaran dalam menggunakan terapi
musik vokal dengan menyanyi dan membaca teks lagu untuk meningkatkan kemampuan
sosial – komunikasi anak autis.
3.5 Teknik Analisis Data
Menurut
Sugiyono (2009:244) analisis data adalah proses mencari dan menyusun data yang
diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan - bahan lain secara
sistematis sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada
orang lain. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis teori induksi dan
reduksi data.
1. Teori
Induksi
Peneliti
harus memfokuskan perhatiannya pada data yang dilapangan sehingga segala
sesuatu tentang teori yang berhubungan dengan penelitian menjadi tak penting.
Data akan menjadi sangat penting, sedangkan teori akan dibangun berdasarkan
temuan data di lapangan. Data merupakan segalanya yang dapat memecahkan semua
masalah penelitian. Posisi peneliti benar-benar bereksplorasi terhadap data,
dan apabila peneliti secara kebetulan telah memiliki pemahaman teoritis tentang
data yang akan di teliti, proses pembuatan teori itu harus dilakukan. Peneliti berkeyakinan
bahwa data harus terlebih dahulu di peroleh untuk mengungkapkan misteri
penelitian dan teori baru akan di pelajari apabila seluruh data sudah diperoleh
(Bungin, 2001: 31).
2. Reduksi
data
Analisis
data dalam penelitian berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data.
Diantaranya adalah melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Namun,
ketiga tahapan tersebut berlangsung secara simultan. Analisis data ini
digambarkan seperti berikut :
DAFTAR PUSTAKA
Handoyo. Y.
2009. Autisme pada Anak. Jakarta : PT
Bhuana Ilmu Populer
American
Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorders 5th (DSM-V). Washington: American Psychiatric Association.
Peeters, Theo.
1998. Autism From Theoritical Understanding
to Educational Intervention. London : Whurr Publisher Ltd.
Pusponegoro,
Hartono D. 2003 Pandangan Umum mengenai
Klasifikasi Spektrum Gangguan Autistik
dan Kelainan Susunan saraf Pusat (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional
Autisme-I
Sasanti, Yuniar. 2003. Masalah Perilaku pada Gangguan Spektrum Autism (GSA) (makalah),
Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I
Charman, Tony
& Wendy Stone. 2006. Social and
Communication Development in Autism Spectrum Disorders. New York: A
Division of Guilford Publications, Inc.
Azwandi,
Yosfan (2005).Mengenal dan Membantu Penyandang Autisme. Jakarta :
Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan PerguruanTinggi
Bandi
Delphie.(2009) Pendidikan Anak Autis., Sleman: KTSP.
Chris
William dan Barry Wright,(2004). How to live with Autis and Asperger
Syndrom. Terj. Dian Rakyat, Jakarta : 2004
Handojo.
( 2003) . Autisma: Petujuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar Anak
Normal, Autis dan Perilaku lain, Jakarta : PT Buana Ilmu Populer.
Martin
Hanbury, (2005). Educating Pupils with Autistic Spectrum Disorder (A
Practical Guide).London: Paul Chapman Publishing
Muhammad,
Arni.2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Rini
Hildayani, dkk., (2009). Penanganan Anak Berkelainan (Anak Dengan
Berkebutukan Khusus). Jakarta: Universitas Terbuka
Rainbow
Centre Training and Consultancy (2009). Cours Hand Book-Special
Esducation Needs Teacher Course Autis Spectrum Disorder. Singapore : Reinbow Centre
Yurike
fauzia Wardhani, dkk. (2009). Apa dan bagaimana Autise Terapi Medis
Alternatif, Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia