Rabu, 30 November 2022

Hai, sudah lama tak ku kunjungi laman ini.

Rasanya sudah terasa usang. Hampir ku lupakan segala kebiasaanku yang dulu pernah ku lakukan.

Tapi, ternyata aku masih membutuhkan laman ini.


Ya, kalau boleh kusapa diri ini 8 tahun lalu. 

Seterpuruk itu aku jatuh karena mereka. Kehilangan beberapa orang kesayangan yang pergi dengan penghianatan dan kekecewaan.

but, time flies...

Kamu yang meninggalkan Aku sendiri, dengan segala kenangan indah tanpa celah. Akhirnya memutuskan untuk memilih jalan untuk tetap bersama perempun itu. Sangat kuhargai keputusanmu saat itu. Meskipun aku tahu, akt tidak bisa menerima kepergianmu saat itu. Ya, kamu yang selalu kusebut kejora. 

kamu, memang layaknya bintang yang selalu menerangi sudut hati yang gelap ini. Tak pernah ku tulis kisahmu sejak saat itu. Sedihku pun hanya kusimpan sendiri. Tak mampu aku ceritakan semua tentang mu saat itu.

Tapi, tanpa kamu sadari. Aku bertumbuh secara perlahan. 

Aku bertumbuh jauh lebih baik dengan segala proses yang berat untuk kapat merelakanmu.

Sudah ku akhiri semua kisah kita dengan segala Penerimaan yang baik. Apapun yang terjedi dulu, sudah ku lampaui dengan baik.

Sekarang, kembali ku sapa diri ini

Yang sudah beberapa hari lelah dengan segala hiruk pikuknya.

Aku lupa, bahwa aku memiliki keyakinan 

Kamis, 22 Desember 2016

DESAIN WORDWALL

Dosen Pengampu :
Dr. Yuliyati, M.Pd


Oleh :
Azlena Vira Safitri
14010044002
Wordwall adalah kumpulan kosakata yang terorganisir secara sistematis yang ditampilkan dengan hurup yang besar dan ditempelkan pada dinding suatu kelas. Wordwall adalah sebuah media pembelajaran yang harus digunakan bukan hanya ditampilkan atau dilihat. Media ini dapat didesain untuk meningkatkan kegiatan kelompok belajar dan juga dapat melibatkan siswa dalam pembuatannya serta aktivitas penggunaannya. Dengan menggunakan wordwall diharapkan siswa akan meningkat pemahaman kosakata tanpa harus selalu tergantung pada penggunaan kamus atau juga arti kata yang diberikan oleh guru.
Ada beberapa cara untuk membuat wordwall efisien, praktis dan mudah diingat. Wordwall adalah media interaktif dalam ruang kelas untuk mendukung pembelajaran mendengar, berbicara, membaca dan menuli.
Adapun beberapa cara tersebut adalah :
  1. Buatlah agar mudah diingat dengan menggunakan kata-kata favorit pada tema tertentu.
  2. Buatlah menjadi berguna yaitu dengan sering menggunakan kata-kata tersebut dalam berbagai kegiatan listening, speaking, reading atau writing
  3. Buatlah mudah dilihat, dengan menuliskannya dengan hurup yang besar dan ditempelkan pada sebuah dinding di kelas.
Pembuatan
Pada pembuatan media ini perlu membuat kata-kata kunci dalam tema-tema tertentu sesuai dengan kurikulum dan menuliskannya dengan hurup yang besar di atas secarik karton dengan ukuran yang sedapat mungkin dapat dilihat dengan jelas oleh seluruh siswa dalam kelas. Kata-kata kunci ini dapat berupa Adjectives, nouns, verb, atau adverb yang disesuaikan dengan tema yang akan dipelajari. Penulis memberikan antara 5 sampai 10 kata dalam tiap minggu. Hal yang penulis tekankan adalah dari segi kualitas yaitu kata-kata tersebut akan selalu mudah diingat oleh siswa dan bukan dari banyaknya kosakata tapi mudah terlupa bagi siswa.
Untuk tahap selanjutnya maka penulis dapat berkolaborasi dengan siswa dalam pembuatan wordwall ini. Siswa disuruh membuat sebuah kosakata pada secarik karton yang berhubungan dengan tema pembelajaran tertentu. Setelah itu dikumpulkan dan diseleksi kata-kata mana yang paling sesuai dengan tema yang akan diajarkan. Semua hasil karya siswa ini penulis kumpulkan sebagai portofolio siswa dan diberi nilai.
Ini adalah desain wordwall buatan saya

Selasa, 20 Desember 2016

PROPOSAL METODOLOGI PENELITIAN

PENGARUH MENYANYI DAN MEMBACA TEKS LAGU  DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL - KOMUNIKASI PADA ANAK AUTIS SEBAGAI PENDAMPING TERAPI MUSIK VOKAL USIA 5 TAHUN

PROPOSAL PENELITIAN
Dosen Pengampu :
Dr. Yuliyati, M.Pd

 

Oleh
AZLENA VIRA SAFITRI
NIM 14010044002


UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
JURUSAN PENDIDIKAN LUAR BIASA
2016


Usulan Penelitian oleh : AZLENA VIRA SAFITRI
NIM                            : 14010044002
Judul                            : PENGARUH BERNYANYI DAN MEMBACA TEKS LAGU DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERBICARA SERTA PENDAMPING SPEECH TERAPI PADA ANAK AUTIS USIA 13 TAHUN.
ini telah disetujui dan dinyatakan memenuhi syarat untuk diseminarkan.




Surabaya, 9 Desember 2016
Pembimbing,
Dr. Yuliyati, M.Pd.
...........................................
NIP 195707121983032013



BAB I
PENDAHULUAN
11.1  Latar Belakang
Kebutuhan tiap individu untuk melakukan komunikasi merupakan manifestasi dari eksistensi individu sebagai makhluk social. Kemampuan seseorang dalam melakukan komunukasi menjadi kebutuhan yang mutlak harus terpenuhi dalam upaya mereka untuk melakukan aktualisasi diri. Kemampuan komunikasi tersebut berlaku secara universal bagi setiap individu dalam kebutuhan mereka untuk survive. Permasalahan komunikasi sering terjadi pada mereka yang memiliki hambatan perkembangan baik secara fisik maupun psikis dalam melakukan komunikasi. Kendala tersebut juga sering terjadi pada anak yang mengalami hambatan autisme.
Salah satu perilaku yang menjadi penanda utama dari anak yang baru didiagnosa mengalami gangguan spektrum autisme adalah kurangnya kemampuan anak dalam sosial - komunikasi, salah satunya adalah interaksi. Hal ini dapat dilihat dari minimnya frekuensi anak dalam memberikan respon pada seseorang, apabila diajak berkomunikasi atau berbicara. Dalam beberapa tipe anak autis, terdapat beberapa anak yang membeo atau berekolalia. Namun dalam artian ini, mereka mengucapkan suatu kata yang tidak jelas atau tidak dapat didengar oleh orang lain.
Cara berkomunikasi yang paling efektif dan paling dominan dipergunakan oleh masyarakat pemakainya adalah bentuk bahasa yang diucapkan atau diartikulasikan Dengan komunikasi verbal manusia akan dengan mudah dan sesegera mungkin memenuhi keinginan atau kebutuhannya (Sardjono, 2005 dalam Somad, 2009).
Salah satu terapi yang dapat digunakan untuk anak autis ialah terapi musik vokal. Dimana terapi musik vokal ini, dapat melatih kemampuan komunikasi anak. Sehingga anak dapat menggembangkan sosialisasi terhadap lingkungan sekitarnya. Usia antara 2 – 5 tahun adalah usia yang sangat ideal untuk memulai menangani autisme. Salah satu bentuk penanganan terhadap autis adalah terapi musik yang kini banyak dipakai untuk anak – anak autis dan mereka yang memiliki kesulitan belajar. Spesialis musik terapi, Robbin Nordoff dalam majalah Holmes mengklaim bahwa anak autis, energinya akan meningkat ketika diperdengarkan musik tertentu.
Hal senada dituturkan oleh seorang psikolog, Alfa Handayani dalam majalah Hidayat  “Musik mampu meningkatkan pertumbuhan otak anak karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel otak. Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang merupakan emosi positif. Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang menjadi maksimal”.
Jika anak autis diberi terapi musik sejak dini, maka kecerdasan emosional dan intelegensinya berkembang lebih baik dibandingkan dengan anak autis yang tidak mendapatkan terapi musik.
 Ketika kita sedang bernyanyi, pernapasan kita menjadi lebih terkendali karena diharuskan untuk mencapai nada-nada tertentu. Hal ini akan membuat anak-anak menjadi lebih tenang dan emosinya lebih terkendali. Bernyanyi juga merangsang aktivitas otak anak. Setelah mereka mendengar sebuah lagu, dan mencoba menyanyikannya kembali karena suka, otak mereka bekerja untuk mengingatnya kembali, lalu berusaha untuk menyanyikannya. Selain itu, bernyanyi juga akan memperluas perbendaharaan kosakata mereka. Dianjurkan bagi ank-anak untuk mengenal banyak kosakata yang sesuai dengan usia mereka. Dengan mengetahui kata baru dan maksudnya, anak-anak akan semakin pandai berbicara dan mengatur emosinya. Bernyanyi melepas hormon endorfin yang memperbaiki mood anak-anak yang kadang tidak teratur. Bernyanyi di depan umum, bahkan di lingkungan rumah pun akan membangun rasa percaya diri bagi anak-anak. Kepercayaan diri sangat dibutuhkan di masa remaja dan dewasanya. Bernyanyi tentu saja merangsang jiwa seni anak-anak. Bakat seni mereka akan perlahan-lahan terlihat ketika melantunkan beberapa lagu.
Penelitian ini dapat sedikit menjawab permasalahan yang ada di masyarakat terkait penanganan anak autis. Penelitian ini diberi judul PENGARUH MENYANYI DAN MEMBACA TEKS LAGU  DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN SOSIAL - KOMUNIKASI PADA ANAK AUTIS SEBAGAI PENDAMPING TERAPI MUSIK VOKAL USIA 5 TAHUN.
11.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah dalam penelitian ini adalah apakah kemampuan sosial – komunikasi dapat ditingkatkan dengan menyanyi dan membaca teks lagu yang didampingi oleh terapi musik vokal pada anak autis usia 5 tahun.
11.3  Tujuan Penelitian
Sesuai rumusan masalah di atas, tujuan penulisan penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya peningkatan kemampuan sosial - komunikasi pada anak autis usia 5 tahun setelah diberikan pengajaran menyanyi dan membaca teks lagu sebagai pendamping terapi musik vokal.
11.4  Hipotesis Penelitian
Berdasarkan uraian teori di atas, maka peneliti mengajukan hipotesis sebagai berikut :
Terapi musik vokal melalui menyanyi dan membaca teks lagu dapat meningkatkan kemapuan sosial – komunikasi anak autis usia 5 tahun.
11.5  Batasan Penelitian
Batasan penelitian merupakan fokus penelitian agar penelitian tidak meluas dari judul yang telah dibuat, sehingga tidak terjadi kesalahan pemahaman persepsi penafsiran judul, maka terdapat batasan yaitu sebagai berikut :
a.       Subjek dalam penelitian ini adalah anak yang memiliki gangguan autisme dan telah didiagnosa oleh seorang profesional (psikiater atau neurolog), memiliki rentang usia kanak-kanak awal (4-6 tahun), berada dalam spektrum severe autism dan memiliki kemampuan RJA < 80%. Kemampuan RJA anak diukur dengan menggunakan Early Social Communication Scales (ESCS). Total partisipan dalam penelitian ini adalah dua anak autis.
b.      Waktu pertemuan penelitian yaitu selama sepuluh kali pertemuan yang setiap pertemuan berlangsung selama dua kali 35 menit.
c.       Dalam penelitian ini terapi musik vokal dengan menyanyi dan membaca teks lagu diterapkan untuk membantu peningkatan kemampuan sosial - komunikasi. Dengan target anak dapat melakukan kegiatan sosial – komunikasi dengan orang disekitarnya, melalui dengan pelatihan menyanyi dan membaca teks lagu.
d.      Penelitian ini hanya berlaku untuk anak autis dengan rentang usia kanak-kanak awal (4-6 tahun).
11.6  Manfaat Penelitian
Penelitian ini memiliki manfaat yang dapat ditinjau dari segi teoritis maupun praktis, yaitu :
1.      Manfaat teoritis
Secara teoritis penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat dalam mengembangkan ilmu komunikasi yakni dalam pengembangan interaksi atau sosial – komunikasi anak autis.
2.      Manfaat praktis
a.       Bagi mahasiswa
Penelitian ini diharapkan menjadi acuan bagi peneliti selanjutnya dalam melakukan pengembangan penelitian serupa tentang persepsi terhadap peserta didik autis.
b.      Bagi pendidik
Bagi Pendidik penelitian ini dapat dijadikan sebagai bentuk informasi tentang kemampuan sosial -  komunikasi pada anak autis.
c.       Bagi tenaga kependidikan
Bagi tenaga kependidikan penelitian ini dapat dijadikan sebagai bentuk informasi tentang sosial – komunikasi pada anak autis.

11.7  Asumsi Penelitian
Asumsi merupakan anggapan yang digunakan sebagai berikut :
a.       Setiap anak mengalami perkembangan sosial - komunikasi terhadap sosialnya begitupun anak autis.
b.      Anak autis merupakan visual learning sehingga konsep terapi musik vokal cocok diberikan untuk anak autis.
c.       Konsep terapi musik vokal merupakan konsep yang menyenangkan dan menarik perhatian siswa.



BAB II
KAJIAN PUSTAKA

22.1  Anak Autis
2.1.1        Pengertian Autisme
Kata autisme berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata yaitu ‘aut’ yang berarti ‘diri sendiri’ dan ‘ism’ yang  secara tidak langsung menyatakan  ‘orientasi atau arah atau keadaan (state). Sehingga autism dapat didefinisikan sebagai kondisi seseorang yang luar biasa asik dengan dirinya sendiri (Reber, 1985 dalam Trevarthen dkk, 1998). Pengertian ini menunjuk pada bagaimana anak-anak autis gagal bertindak dengan minat pada orang lain, tetapi kehilangan beberapa penonjolan perilaku mereka. Ini, tidak membantu orang lain untuk memahami seperti apa dunia mereka.
Autis pertama kali diperkenalkan dalam suatu makalah pada tahun 1943 oleh seorang psikiatris Amerika yang bernama  Leo Kanner. Ia menemukan sebelas anak yang memiliki  ciri-ciri yang sama, yaitu tidak mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan individu lain  dan sangat tak acuh terhadap lingkungan di luar dirinya, sehingga perilakunya tampak seperti hidup dalam dunianya sendiri.
Autisme mengacu pada problem dengan interaksi sosial, komunikasi, dan bermain imajinatif, yang mulai muncul sejak anak berusia di bawah 3 tahun. Mereka mempunyai keterbatasan pada level aktivitas dan interest. Hampir 75% dari anak autis mengalami beberapa derajat Retardasi Mental. Autisme biasanya muncul sejak tiga tahun pertama kehidupan seorang anak (Priyatna, 2010).
Autis merupakan salah satu kelompok dari gangguan pada anak pada anak yang ditandai munculnya gangguan dan keterlambatan dalam bidang kognitif, komunikasi, ketertarikan pada interaksi sosial, dan perilakunya. Autisme merupakan kelainan perilaku yang penderitanya hanya tertarik pada aktivitas mentalnya sendiri. Autis dapat terjadi di semua kalangan masyarakat (Veskarisyanti, 2008).
Autis adalah Suatu keadaan dimana seseorang anak berbuat semaunya sendiri baik cara berpikir maupun berperilaku. Keadaan ini mulai terjadi sejak usia masih muda, biasanya sekitar usia 2-3 tahun. Autisme bisa mengenai siapa saja, baik yang sosio-ekonomi mapan maupun kurang, anak atau dewasa dan semua etnis (Yatim, 2007).
Autis merupakan suatu gangguan perkembangan yang kompleks yang berhubungan dengan komunikasi, interaksi sosial dan aktivitas imajinasi. Gejalanya tampak pada sebelum usia tiga tahun. Bahkan apabila autis infantil gejalanya sudah ada sejak bayi. Autis juga merupakan suatu konsekuensi dalam kehidupan mental dari kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsifungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling). Autis jugs dapat dinyatakan sebagai suatu kegagalan dalam penalaran sistematis (systematic reasoning). Dalam suatu analisis ‘microsociological’ tentang logika pemikiran mereka dan interaksi dengan yang lain (Durig, 1996; dalam Trevarthen, 1998), orang autis memiliki kekurangan pada ‘cretive induction’ atau membuat penalaran induksi yaitu penalaran yang bergerak dari premis-premis khusus (minor) menuju kesimpulan umum, sementara deduksi, yaitu bergerak pada kesimpulan khusus dari premis-premis (khusus) dan abduksi yaitu peletakan premis-premis umum pada kesimpulan khusus, kuat. (Trevarthen, 1998).
DSM IV (Diagnpstic Statistical Manual yang dikembangkan oleh para psikiater dari Amerika) mendefinisikan anak autis sebagai berikut:
                                                                     1.         Terdapat paling sedikit enam pokok dari kelompok a, b dan c, meliputi sekurang-kurangnya: satu item dari kelompok a, sekurang-kurangnya satu item dari kelompok b, sekurang-kurangnya satu item dari kelompok.
a)      Gangguan kualitatif dalam interaksi sosial yang ditunjukkan oleh paling sedikit dua diantara berikut :
1)      Memiliki kesulitan dalam mengunakan berbagai perilaku non verbal seperti, kontak mata, ekspresi muka, sikap tubuh, bahasa tubuh lainnya yang mengatur interaksi sosial.
2)      Memiliki kesulitan dalam mengembangkan hubungan dengan teman sebaya atau teman yang sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.
3)      Ketidakmampuan untuk berbagi kesenangan, minat, atau keberhasilan secara spontan  dengan orang lain (seperti; kurang tampak adanya perilaku memperlihatkan, membawa atau menunjuk objek yang menjadi minatnya).
4)      Ketidakampuan dalam membina hubungan sosial atau emosi yang timbal balik.
b)      Gangguan kualitatif dalam berkomunikasi yang ditunjukkan oleh paling sedikit satu dari yang berikut :
1)      Keterlambatan dalam perkembangan bicara atau sama sekali tidak (bukan disertai dengan mencoba untuk mengkompensasikannya melalui cara-cara komunikasi alternatif seperti gerakan tubuh atau lainnya).
2)      Bagi individu yang mampu berbicara, kurang mampu untuk memulai pembicaraan atau memelihara suatu percakapan dengan  yang lain.
3)      Pemakaian bahasa yang stereotipe atau berulang-ulang atau bahasa yang aneh (idiosyncantric).
4)      Cara bermain  kurang bervariatif, kurang mampu bermain pura-pura secara spontan, kurang mampu meniru secara sosial sesuai dengan tahap perkembangan mentalnya.
c)      Pola minat perilaku yang terbatas, repetitive, dan stereotype seperti yang ditunjukkan oleh paling tidak satu dari yang berikut :
1)      Keasikan dengan satu atau lebih pola-pola minat yang terbatas dan stereotipe baik dalam intensitas maupun dalam fokusnya.
2)      Tampak tidak fleksibel atau kaku dengan rutinitas atau ritual yang khusus, atau yang tidak memiliki manfaat.
3)      Perilaku motorik yang stereotip dan berulang-ulang (seperti : memukul-mukulkan atau menggerakgerakkan  tangannya atau mengetuk-ngetukan jarinya, atau menggerakkan seluruh tubuhnya).
4)      Keasikan yang menetap dengan bagian-bagian dari benda (object).
                                                                     2.         Perkembangan abnormal atau terganggu sebelum usia tiga tahun seperti yang ditunjukkan oleh keterlambatan atau fungsi yang abnormal pada paling sedikit satu dari bidang-bidang berikut:
                                                                     3.         Sebaiknya tidak dikelompokkan ke dalam Rett Disorder, Childhood Integrative Disorder, atu Asperger Syndrom.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa anak autis yaitu anak-anak yang mengalami kesulitan perkembangan otak yang kompleks yang mempengaruhi banyak fungsi-fungsi: persepsi (perceiving), intending, imajinasi (imagining) dan perasaan (feeling) yang terjadi sebelum umur tiga tahun dengan dicirikan oleh adanya hambatan kualitatif dalam interaksi sosial, komunikasi dan terobsesi pada satu kegiatan atau obyek yang mana mereka memerlukan layanan pedidikan khusus untuk mengembangkan potensinya.

2.1.2        Klasifikasi Autis
Menurut Veskarisyanti (2008), ada beberapa klasifikasi autisme, diantaranya :
1.      Aloof
Anak dengan autisme dari tipe ini senantiasa berusaha menarik diri dari kontak sosial, dan cenderung untuk menyendiri di pojok.
2.      Passive
Anak dengan autisme tipe ini tidak berusaha mengadakan kontak sosial melainkan hanya menerima saja.
3.      Active but odd
Sedangkan pada tipe ini, anak melakukan pendekatan namun hanya bersifat repetitif dan aneh.

2.1.3        Perilaku Anak Autis
Autisme merupakan sindroma yang sangat kompleks. Ditandai dengan ciri-ciri kurangnya kemampuan interaksi sosial dan emosional, sulit dalam komunikasi timbale balik, minat terbatas, dan perilaku tidak disertai gerakan berulang tanpa tujuan (stereo-tipic).
                                                                     1.         Perilaku Sosial
Perilaku sosial memungkinkan seorang individu untuk berhubungan dan berinteraksi dalam seting sosial. Tinjauan tentang kesulitan (deficits) sosial pada anakanak autis baru-baru ini muncul (Hawlin, 1986 dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Anak-anak autis yang nonverbal  telah diketahui bahwa mereka mengabaikan (ignore) orang lain, memperlihatkan masalah umum dalam bergaul dengan orang lain secara sosial. Ekspresi sosial mereka terbatas pada ekspresi emosi-emosi yang ekstrim, seperti menjerit, menangis atau tertawa yang sedalam-dalamnya.
Anak-anak autis tidak menyukai perubahan sosial atau gangguan dalam rutinitas sehari-hari dan lebih suka apabila dunia mereka tetap sama. Apabila terjadi perubahan mereka akan lebih mudah marah, contoh: mereka akan marah apabila mengambil rute pulang dari sekolah yang berbeda dari yang biasa dilewati, atau posisi furnitur di dalam kelas berubah dari semula.
Anak-anak autis sering memperlihatkan perilaku yang merangsang dirinya sendiri (self-stimulating) seperti mengepak-ngepakkan tangan (hand flapping) mengayun-ayun tangan ke depan dan kebelakang, membuat suara-suara yang tetap (ngoceh), atau menyakiti diri sendiri (self-inflicting injuries) seperti menggaruk-garuk, kadang sampai terluka, menusuk-nusuk. Perilaku merangsang diri sendiri (self-stimulating) lebih sering terjadi pada waktu yang berbeda dari kehidupan anak atau selama situasi sosial berbeda (Iwata et all, 1982 dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Perilaku ini lebih sering lagi terjadi pada saat anak autis ditinggal sendiri atau sedang sendirian daripada waktu dia sibuk dengan tugas-tugas yang harus dikerjakannya, dan berkurang setelah anak belajar untuk berkomunikasi. (Carr & Durrand, 1985; dalam Kathleen Ann Quill, 1995).
                                                                     2.         Perilaku Komunikasi
Bahasa termasuk pembentukan kata-kata, belajar aturan-aturan untuk merangkai kata-kata menjadi kalimat dan mengetahui maksud atau suatu alasan menggunakan bahasa. Bahasa merupakan sesuatu yang abtrak. Pemahaman bahasa memerlukan fungsi pendengaran yang baik dan persepsi pendengaran yang baik pula. Bahasa pragmatis yang merupakan penerjemahan (interpreting) dan penggunaan bahasa dalam konteks sosial, secara pisik (physical) dan konteks linguistik. Pragmatis dan komunikasi berhubungan erat, untuk menjadi seorang komunikator yang berhasil seorang anak harus memiliki pengetahuan tentang bahasa yang dipergunakannya sama baiknya dengan pemahaman tentang manusia dan dimensi dunia yang bukan manusia.
Komunikasi lebih daripada kemampuan untuk bicara atau kemampuan untuk merangkai kata-kata dalam urutan yang tepat (Wilson, 1987 Kathleen Ann Quill, 1995). Komunikasi adalah kemampuan untuk membiarkan orang lain mengetahui apa yang diinginkan oleh individu, menjelaskan tentang suatu kejadian kepada orang lain, untuk menggambarkan tindakan  dan untuk mengakui keberadaan atau kehadiran orang lain. Komunikasi dapat dilakukan secara verbal dan nonverbal. Komunikasi dapat dijalin melalui gerakan tubuh, melalui tanda isarat atau dengan menunjukkan gambar atau kata-kata. Secara tidak langsung komunikasi menyatakan suatu situasi sosial antara dua individu atau lebih.
Dalam komunikasi orang yang membawa pesan disebut pemrakarsa (initiator) sedangkan orang yang mendengarkan pesan disebut penerima pesan. Pesan bergantian antara pemrakarsa dan penerima pesan. Untuk memenuhi kemampuan (competent) dalam keterampilan pragmatis anak harus mengetahui dan memahami kedua peran tersebut, sebagai premrakarsa dan sebagai penerima pesan. (Watson, 1987, dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Banyak anak autis yang memiliki kesulitan dalam pragmatis (Baron, Cohen, 1988 dalam Kathleen, 1995). Untuk peran pemrakarsa dalam berkomunikasi, anak autistik memiliki kesulitan dalam memulai percakapan atau pembicaraan (Feidstein, Konstantereas, Oxman, & Webster, 1982 dalam Kathleen Ann Quill, 1995). Ketika berbicara, mereka cenderung meminta orang dewasa untuk mengambilkan mainan, makanan atau minuman, mereka jarang menyampaikan tindakan yang komunikatif seperti menjawab orang lain, mengomentari sesuatu, mengungkapan perasaan atau menggunakan etika sosial seperti pengucapan terimakasih, atau meminta maaf.
Anak-anak autis yang non verbal sering menjadi penerima informasi dan merespon pada orang tua dan guru mereka meminta dengan perlakuan (deal) yang konsisten. Contoh orang dewasa bertanya:”Kamu mau makan apa?”. Dan anak mungkin menjawab dengan memperlihatkan gambar kue atau dengan menggambar kue atau bahkan mungkin dengan kata-kata. Ini sutu peningkatan komunikasi karena anak mengakui orang dewasa sebagai teman dalam meningkatkan komunikasi dan memahami permintaan guru yang ditujukan padanya. Dalam permintaan ini anak sebagai penerima dan penjawab permintaan itu. (Kathleen Ann Quill, 1995).
Ada beberapa perilaku yang diperlukan dan harus dimiliki oleh seorang anak autis yang nonverbal agar menjadi seorang komunikator yang berhasil yaitu pemahaman sebab akibat, keinginan berkomunikasi, dengan siapa dia berkomunikasi, ada sesuatu untuk dikomunikasikan dan makna dari komunikasi. Di dalam komunikasi apabila seorang anak tidak memahami sebab, dia akan mengalami kesulitan dalam meminta seseorang untuk melakukan sesuatu atau membantunya untuk mengambil benda di tempat penyimpanan (rak) yang paling tinggi. Tanpa penalaran sebab akibat anak tidak dapat meminta suatu tindakan atau benda dari orang lain. Memiliki keinginan untuk berkomunikasi dengan orang lain merupakan tugas yang sulit untuk anak-anak yang nonverbal, selama satu dari tantangan utama mereka adalah ketidakmampuan untuk berhubungan dengan orang lain dalam cara yang diharapkan. Mereka tidak mengakui atau memperlihatkan ketertarikan pada orang lain. Alasan utama dari pernyataan ini karena miskinnya hubungan sebab akibat yang telah dibicarakan di atas. Jika seorang anak tidak memahami bahwa seseorang dapat membantunya atau anak tidak memahami bahwa tindakan akan mengakibatkannya mendapatkan sesuatu.
Sering kali guru berperan sebagai pemrakarsa dalam meningkatkan komunikasi dengan anak autis dan anak biasanya jadi responder. Anak harus belajar menunggu dengan sabar supaya guru menunjukkannya dan dia akan menerima yang dinginkannya. Anak perlu kesempatan untuk meminta benda dengan bebas atau mengawali percakapan. Jika anak autis tidak memiliki sesuatu untuk dibicarakan dia akan tetap tidak berkomunikasi (noncomunicatif). Dari uraian di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa prilaku komunikasi anak autistik yang menghambat interaksinya dengan orang lain, dapat ditunjukkan dengan perilaku yang nampak seperti: mengabaikan orang lain (tidak merespon apabila diajak berbicara), tidak dapat mengekspresikan emosi secara tepat (tidak tertawa melihat yang lucu, tidak memperlihatkan perasaan senang, takut, atau sakit, dalam mimik mukanya), terobsesi dengan kesamaan (kaku), tidak mampu mengungkapkan keinginannya secara verbal atau mengkompensasikannya dalam gerakan, sulit untuk memulai percakapan atau pembicaraan, jarang melakukan tindakan yang komunikatif, jarang menggunakan kata-kata yang menunjukkan etika sosial, atau mengungkapkan perasaan atau mengomentari sesuatu, echolalia (membeo), nada bicara monoton, salah menggunakan kata ganti orang.
Menurut Safaria (2005), menyebutkan 2 jenis perilaku autisme, yaitu :
1)      Perilaku berlebihan (excessive) :
a)      Perilaku melukai diri sendiri (self-abuse), seperti memukul, menggigit, dan mencakar diri sendiri.
b)      Agresif, seperti perilaku menendang, memukul, menggigit, dan mencubit.
c)      Tantrum, seperti perilaku menjerit, menangis, dan melompatlompat.
2)      Perilaku berkekurangan (deficit)
Yang ditandai dengan gangguan bicara, perilaku sosial kurang sesuai, deficit sensoris sehingga terkadang anak dianggap tuli, bermain tidak benar dan emosi yang tidak tepat misalnya tertawa tanpa sebab, menangis tanpa sebab, dan melamun.

2.1.4        Penyebab Autis pada Anak
1.      Faktor Genetik
Lebih kurang 20% dari kasus-kasus autisme disebabkan oleh faktor genetik. Penyakit genetik yang sering dihubungkan dengan autisme adalah tuberous sclerosis (17-58%) dan sindrom fragile X (20-30%). Disebut fragile-X karena secara sitogenetik penyakit ini ditandai oleh adanya kerapuhan (fragile) yang tampak seperti patahan diujung akhir lengan panjang kromosom X 4. Sindrome fragile X merupakan penyakit yang diwariskan secara X-linked (X terangkai) yaitu melalui kromosome X. Pola penurunannya tidak umum, yaitu tidak seperti penyakit dengan pewarisan X-linked lainnya, karena tidak bisa digolingkan sebagai dominan atau resesi, laki-laki dan perempuan dapat menjadi penderita maupun pembawa sifat (carrier).   (Dr. Sultana MH Faradz, Ph.D, 2003).

2.      Ganguan pada Sistem Syaraf
Banyak penelitian yang melaporkan bahwa anak autis memiliki kelainan pada hampir semua struktur otak. Tetapi kelainan yang paling konsisten adalah pada otak kecil. Hampir semua peneliti melaporkan berkurangnya sel purkinye di otak kecil pada autisme. Berkurangnya sel purkinye diduga dapat merangsang pertumbuhan akson, glia dan myelin sehingga terjadi pertumbuhan otak yang abnormal, atau sebaliknya pertumbuhan akson yang abnormal dapat menimbulkan sel purkinye mati. (Dr. Hardiono D. Pusponegoro, SpA(K), 2003).
Otak kecil berfungsi mengontrol fungsi luhur dan kegiatan motorik, juga sebagai sirkuit yang mengatur perhatian dan pengindraan. Jika sirkuit ini rusak atau terganggu maka akan mengganggu fungsi bagian lain dari sistem saraf pusat, seperti misalnya sistem limbik yang mengatur emosi dan perilaku.

3.      Kerusakan Jaringan Otak
Patricia Rodier, ahli embrio dari Amerika menyatakan bahwa korelasi antara autis dan cacat lahir yang disebabkan oleh Thalidomide menyimpulkan bahwa kerusakan jaringan otak dapat terjadi paling awal 20 hari pada saat pembentukan janin. Peneliti lainnya, Minshe, menemukan bahwa pada anak yang terkena autis, bagian otak yang mengendalikan pusat memori dan emosi menjadi lebih kecil daripada anak normal.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa gangguan perkembangan otak telah terjadi pada semester ketiga saat kehamilan, atau pada saat kelahiran bayi. Karin Nelson, ahli neorology Amerika mengadakan penyelidikan terhadap protein otak dari contoh darah bayi yang baru lahir. Empat sampel protein dari bayi yang normal mempunyai kadar protein tinggi, yang kemudian ditemukan bahwa bayi dengan kadar protein tinggi ini berkembang menjadi autis dan keterbelakangan mental (Huzaemah, 2010).

4.      Terlalu banyak vaksin Hepatitis B
Ada pendapat yang mengatakan bahwa terlalu banyak vaksin Hepatitis B bisa mengakibatkan anak mengidap penyakit autisme. Hal ini dikarenakan vaksin ini mengandung zat pengawet Thimerosal.

5.      Kombinasi makanan atau lingkungan yang salah
Autis disebabkan kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar, yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis. Beberapa teori yang didasarkan oleh beberapa penelitian ilmiah telah dikemukakan untuk mencari penyebab dan proses terjadinya autis.
6.      Ketidakseimbangan Kimiawi
Beberapa peneliti menemukan sejumlah kecil dari gejala autistik berhubungan dengan makanan atau kekurangan kimiawi di badan. Alergi terhadap makanan tertentu, seperti bahan-bahan yang mengandung susu, tepung gandum, daging, gula, bahan pengawet, penyedap rasa, bahan pewarna, dan ragi.
Untuk memastikan pernyataan tersebut, dalam tahun 2000 sampai 2001 telah dilakukan pemeriksaan terhadap 120 orang anak yang memenuhi kriteria gangguan autisme menurut DSM IV. Rentang umur antara 1 – 10 tahun, dari 120 orang itu 97 adalah anak laki-laki dan 23 orang adalah anak perempuan. Dari hasil pemeriksaan diperoleh bahwa anak anak ini mengalami gangguan metabolisme yang kompleks, dan setelah dilakukan pemeriksaan untuk alergi, ternyata dari 120 orang anak yang diperiksa: 100 anak (83,33%) menderita alergi susu sapi, gluten dan makanan lain, 18 anak (15%) alergi terhadap susu dan makanan lain, 2 orang anak (1,66 %) alergi terhadap gluten dan makanan lain. (Dr. Melly Budiman, SpKJ, 2003).
Penelitian lain menghubungkan autism dengan ketidakseimbangan hormonal, peningkatan kadar dari bahan kimiawi tertentu di otak, seperti opioid, yang menurunkan persepsi nyeri dan motivasi.

7.      Kemungkinan Lain
Infeksi yang terjadi sebelum dan setelah kelahiran dapat merusak otak seperti virus rubella yang terjadi selama kehamilan dapat menyebabkan kerusakan otak. Kemungkinan yang lain adalah faktor psikologis, karena kesibukan orang tuanya sehingga tidak memiliki waktu untuk berkomunikasi dengan anak, atau anak tidak pernah diajak berbicara sejak kecil, itu juga dapat menyebabkan anak menderita autisme.

2.1.5        Hambatan-hambatan pada Anak Autis
Ada beberapa permasalahan yang dialami oleh anak autis yaitu: Anak autis memiliki hambatan kualitatif dalam interaksi sosial artinya bahwa anak autistik memiliki hambatan dalam kualitas berinteraksi dengan individu di sekitar lingkungannya, seperti anak-anak autis sering terlihat menarik diri,  acuh tak acuh, lebih senang bermain sendiri, menunjukkan perilaku yang tidak hangat, tidak ada kontak mata dengan orang lain dan bagi mereka yang keterlekatannya terhadap orang tua tinggi, anak akan merasa cemas apabila ditinggalkan oleh orang tuanya.
Sekitar 50 persen anak autis yang mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berbahasa. Mereka mengalami kesulitan dalam memahami pembicaran orang lain yang ditujukan pada mereka, kesulitan dalam memahami arti kata-kata dan apabila berbicara tidak pada konteks yang tepat. Sering mengulang kata-kata tanpa bermaksud untuk berkomunikasi, dan sering salah dalam menggunakan kata ganti orang, contohnya menggunakan kata saya untuk orang lain dan menggunakan kata kamu untuk diri sendiri.
Mereka tidak mengkompensasikan ketidakmampuannya dalam berbicara dengan bahasa yang lain, sehingga apabila mereka menginginkan sesuatu tidak meminta dengan bahasa lisan atau menunjuk dengan gerakan tubuh, tetapi mereka menarik tangan orang tuanya untuk mengambil obyek yang diinginkannya. Mereka juga sukar mengatur volume suaranya, kurang dapat menggunakan bahasa tubuh untuk berkomunikasi, seperti: menggeleng, mengangguk, melambaikan tangan dan lain sebagainya.
Anak autis memiliki minat yang terbatas, mereka cenderung untuk menyenangi lingkungan yang rutin dan menolak perubahan lingkungan, minat mereka terbatas artinya mereka apabila menyukai suatu perbuatan maka akan terus menerus mengulang perbuatan itu. anak autistik juga menyenangi keteraturan yang berlebihan.
Lorna Wing (1974) menuliskan dua kelompok besar yang menjadi masalah pada anak autis yaitu:
a)      Masalah dalam memahami lingkungan (Problem in understanding the world).
1)      Respon terhadap suara yang tidak biasa (unusually responses to sounds). Anak autis seperti orang tuli karena mereka cenderung mengabaikan suara yang sangat keras dan tidak tergerak sekalipun ada yang menjatuhkan benda di sampingnya. Anak autis dapat juga sangat tertarik pada beberapa suara benda seperti suara bel, tetapi ada anak autis yang sangat tergangu oleh suara-suara tertentu, sehingga ia akan menutup telinganya.
2)      Sulit dalam memahami pembicaraan (Dificulties in understanding speech). Anak autis tampak tidak menyadari bahwa pembicaraan memiliki makna, tidak dapat mengikuti instruksi verbal, mendengar peringatan atau paham apabila dirinya dimarahi (scolded). Menjelang usia lima tahun banyak autis yang mengalami keterbatasan dalam memahami pembicaraan.
3)      Kesulitan ketika bercakap-cakap (Difiltuties when talking). Beberpa anak autis tidak pernah berbicara, beberapa anak autis belajar untuk mengatakan sedikit kata-kata, biasanya mereka mengulang kata-kata yang diucapkan orang lain, mereka  memiliki kesulitan dalam mempergunakan kata sambung, tidak dapat menggunakan kata-kata secara fleksibel atau mengungkapkan ide.
4)      Lemah dalam pengucapan dan kontrol suara (Poor pronunciation and voice control). Beberapa anak autis memiliki kesulitan dalam membedakan suara tertentu yang mereka dengar. Mereka kebingungan dengan kata-kata yang hampir sama, memiliki kesulitan untuk mengucapkan kata-kata yang sulit. Mereka biasanya memiliki kesulitan dalam mengontrol kekerasan (loudness) suara.
5)      Masalah dalam memahami benda yang dilihat (Problems in understanding things that are seen). Beberapa anak autis sangat sensitif terhadap cahaya yang sangat terang, seperti cahaya lampu kamera (blitz), anak autis mengenali orang atau benda dengan gambaran mereka yang umum tanpa melihat detil yang tampak.
6)      Masalah dalam pemahaman gerak isarat (problem in understanding gesturs). Anak autis memiliki masalah dalam menggunakan bahasa komunikasi; seperti gerakan isarat, gerakan tubuh, ekspresi wajah.
7)      Indra peraba, perasa dan pembau (The senses of touch, taste and smell). Anak-anak autis menjelajahi lingkungannya melalui indera peraba, perasa dan pembau mereka. Beberapa anak autis tidak sensitif terhadap dingin dan sakit.
8)      Gerakan tubuh yang tidak biasa (Unusually bodily movement). Ada gerakangerakan yang dilakukan anak autis yang tidak biasa dilakukan oleh anakanak yang normal seperti mengepak-ngepakan tangannya, meloncat-loncat, dan menyeringai.
9)      Kekakuan dalam gerakan-gerakan terlatih (clumsiness in skilled movements). Beberapa anak autis, ketika berjalan nampak anggun, mampu memanjat dan seimbang seperti kucing, namun yang lainnya lebih kaku dan berjalan seperti memiliki bebrapa kesulitan dalam keseimbangan dan biasanya mereka tidak menikmati memanjat. Mereka sangat kurang dalam koordinasi dalam berjalan dan berlari atau sebaliknya.
b)      Masalah gangguan perilaku dan emosi (Dificult behaviour and emotional problems).
1)      Sikap menyendiri dan menarik diri (Aloofness and withdrawal). Banyak anak autis yang berprilaku seolah-olah orang lain tidak ada. Anak autis tidak merespon ketika dipanggil atau seperti tidak mendengar ketika ada orang yang berbicara padanya, ekspresi mukanya kosong.
2)      Menentang perubahan (Resistance to change). Banyak anak autis yang menuntut pengulangan rutinitas yang sama. Beberapa anak autis memiliki rutinitas mereka sendiri, seperti mengetuk-ngetuk kursi sebelum duduk, atau menempatkan objek dalam garis yang panjang.
3)      Ketakutan khusus (Special fears). Anak-anak autis tidak menyadari bahaya yang sebenarnya, mungkin karena mereka tidak memahami kemungkinan konsekuensinya.
4)      Perilaku yang memalukan secara sosial (Socially embarrassing behaviour). Pemahaman anak autis terhadap kata-kata terbatas dan secara umum tidak matang, mereka sering berperilaku dalam cara yang kurang dapat diterima secara sosial. anak-anak autis tidak malu untuk berteriak di tempat umum atau berteriak dengan keras di senjang jalan.
5)      Ketidakmampuan untuk bermain (Inability to play). Banyak anak autis bermain dengan air, pasir atau lumpur selam berjam-jam. Mereka tidak dapat bermain pura-pura. Anak-anak autis kurang dalam bahasa dan imajinasi, mereka tidak dapat bersama-sama dalam permainan denga anak-anak yang lain.
22.2  Sosial - Komunikasi
2.2.1        Interaksi Sosial Anak Autis
Wing dan Gould (Abdul Hadis, 2006: 52) mengklasifikasikan anak autis menjadi tiga kelompok, yaitu grup aloof, grup pasif, dan group aktif tetapi aneh.
Pertama, grup aloof merupakan ciri yang klasik dan banyak diketahui orang. Anak autis pada kelompok ini sangat mnutup diri untuk berinteraksi dengan orang lain, anak autis biasanya merasa tidak nyaman dan marah. Anak autis juga menghindari kontal fisik dan sosial, walaupun kadang - kadang masih mau bermain bermain secara fisik. Sejak dini anak autis menunjukan perilaku enggan berinteraksi sosial dengan orang lain. Anak autis yang berumur kurang dari satu tahun, menunjukan perilaku tidak membutuhkan orang lain, sangat tenang di tempat tidurnya, sangat seikit melakukan komunikasi dua arah dan tidak menjulurkan tangan untuk dipeluk. Anak autis klasifikasi grup aloof sangat sulit meniru suatu gerakan yang bermakna, seperti melambai, mengangguk, dan sebagainya.
Kedua, grup pasif merupakan jenis anak autis yang tidak berinteraksi secara spontan, tetapi tidak menolak usaha interaksi dari pihak lain, bahkan kadang-kadang menunjukan rasa senang. Kelompok anak autis ini dapat diajak bermain bersama, tetapi tanpa imajinasi, berulang, dan terbatas. Anak autis dalam grup ini merupakan grup yang paling mudah ditangani. Kemampuan anak di grup pasif lebih tinggi jika dibandingkan dengan anak autis di grup aloof. Anak autis dengan jenis ini biasanya sering tidak dikenal secara dini, karena cirinya adalah tidak adanya interaksi sosial yang spontan dan gangguan komunikasi non verbal, dibandingkan dengan perilaku yang sangat sulit pada grup loof.
Ketiga, grup aktif tetapi aneh merupakan kelompok anak autis yang bisa mendekati orang lain, mencoba berkata atau bertanya tetapi bukan untuk kesenangan atau untuk tujuan interaksi sosial secara timbal balik. Kemampuan anak autis dalam mendekati orang lain biasanya berbentuk fisik, sangat melekat terhadap orang lain, walaupun orang lain tersebut tidak menyukainya. Kemampuan bicaranya sering kali lebih baik jika dibandingkan dengan kedua grup lainnya. Anak autis grup ini sering senang dengan komputer dan menonton televisi, sehingga keterpakuannya itu menyebabkan anak mengabaikan hal yang lain, tanpa arti dan tidak berguna bagi kehidupan. Orang tua sering tidak sadar adanya kelainan yang dialami oleh anak dan baru tereteksi saat sudah besar, walaupun sebenarnya gejala sudah ada sejak lama. Grup ini sering menimbulkan masalah diagnosis, karena kadang ciri autisnya menonjol dan kadang tidak begitu terlihat. Bila dihubungkan dengan DSM-IV, biasanya grup ini cocok dengan sindrom Asperger atau Atypical Autistic Disorder.
2.2.2        Komunikasi Anak Autis
Menurut Susman (Joko Yuwono, 2009: 7) perkembangan anak autis dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu cara anak berinteraksi, cara anak berkomunikasi, alasan di balik komunikasi yang dilakukan anak dan tingkat pemahaman anak. Selanjutnya ia menuliskan bahwa perkembangan komunikasi anak autis melalui empat tahap berikut :
Pertama, the own agenda stage. Pada tahap ini anak cenderung bermain sendiri dan tampak tidak tertarik pada orang-orang sekitar. Anak belum memahami bahwa dengan komunikasi dapat mempengaruhi orang lain. Untuk mengetahui keinginan anak autis, kita dapat memperhatikan gerak tubuh dan ekspresi wajahnya. Anak autis dapat berinteraksi cukup lama dengan orang yang dikenalnya, namun anak autis akan kesulitan berinteraksi dengan orang yang baru dikenalnya. Anak autis akan menangis atau berterik bila terganggu aktivitasnya.
Kedua, the requester stage. Pada tahap ini anak autis sudah menyadari bahwa perilakunya dapat mempengaruhi orang lain. Bila menginginkan sesuatu anak autis akan menarik tangan dan mengarah ke benda yang diinginkannya. Aktivita yang biasanya disukai masih bersifat fisik : bergulat, ciluk ba, lari, lompat, dan sebagainya. Pada umumnya anak pada tahap ini sudah dapat memproduksi suara tetapi bukan untuk berkomunikasi melainkan untuk menenangkan diri. Anak dapat merespon sederhana namun konsisten, ia juga dapat melakukan kegiatan yang bersifat rutinitas.
Ketiga, the early communication stage. Dalam tahap ini kemampuan berkomunikasi anak autis lebih baik karena melibatkan gesture, suara dan gambar. Anak autis dapat berinteraksi cukup lama dan dapat menggunakan satu bentuk komunikasi meski dalam situasi khusus. Inisiatif anak dalam berkomunikasi masih terbatas seperti : makan, minum, dan sebagainya. Pada tahap ini anak autis mulai mengulang-ulang hal-hal yang didengar, mulai memahami isyarat visual atau gambar dan  memahami kalimat - kalimat sederhana yang diucapkan.
Keempat, the partner stage. Pada tahap ini merupakan fase yang paling efektif. Bila kemampuan berkomunikasinya baik, maka anak autis berkemungkinan dapat melakukan prcakapan sederhana. Anak dapat menceritakan kejadian yang telah lalu, meminta keinginan yang belum terpenuhi dan mengekspresikan perasaannya. Namun demikian anak masih cenderung menghafal kalimat dan sulit menemukan topik baru dalam percakapan. Kemampuan komunikasi yang baik akan membantu anak autis memahami dan menyampaikan informasi, meminta sesuatu yang ia suka, menyampaikan dan mengekpresikan keinginannya. Anak autis memiliki kesulitan dalam berkomunikasi sekalipun dalam bahasa isyarat ataupun gesture. Anak autis kesulitan untuk menyampaikan pesan dan menerima pesan.
Komunikasi anak autis sangat berbeda dengan komunikasi anak lainnya. Anak autis kesulitan dalam memahami konsep sehingga jarang merespon tugas. Mereka juga kesulitan dalam menyampaikan pesan kepada orang lain, anak autis mungkin hanya mondar-mandir dan diam saja hal lain yang mungkin terjadi adalah menangis atau mengamuk. Anak autis yang sudah bisa berbicara, sebagian besar hanya menggunakan kalimat pendek dengan kosakata sederhana, namun kosa katanya terbatas dan bicaranya sulit dimengerti. Sehingga banyak kosakata yang diucapkan tidak dapat dipahami oleh orang lain. Anak autis juga sering kali menirukan ucapan orang lain dan mengulang-ulang kata.
22.3  Musik
2.3.1 Pengertian Musik
Musik adalah bunyi yang diatur menjadi pola yang dapat menyenangkan telinga kita atau mengkomunikasikan perasaan atau suasana hati. Musik mempunyai ritme, melodi, dan harmoni yang memberikan kedalaman dan memungkinkan penggunaan beberapa instrumen atau bunyi-bunyian (Oxford Ensiklopedi Pelajar, 2005) Bernstein & Picker (1972) mengatakan bahwa musik adalah suara-suara yang diorganisasikan dalam waktu dan memiliki nilai seni dan dapat digunakan sebagai alat untuk mengekspresikan ide dan emosi dari komposer kepada pendengarnya.
Pendapat lain dari Eagle mengatakan musik sebagai organisasi dari bunyi atau suara dan keadaan diam (sounds and silences) dalam alur waktu dan ruang tertentu (Eagle Jr, 1996).
Musik adalah seni penataan bunyi secara cermat yang membentuk pola teratur dan merdu yang tercipta dari alat musik atau suara manusia. Musik biasanya mengandung unsur ritme, melodi, harmoni, dan warna bunyi (Syukur, 2005).
Dari defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa musik adalah bunyi yang diatur menjadi sebuah pola yang tersusun dari bunyi atau suara dan keadaan diam (sounds and silences) dalam alur waktu dan ruang tertentu dalam urutan, kombinasi, dan hubungan temporal yang berkesinambungan sehingga mengandung ritme, melodi, warna bunyi, dan keharmonisan yang biasanya dihasilkan oleh alat musik atau suara manusia yang dapat menyenangkan telinga dan mengekspresikan ide, perasaan, emosi atau suasana hati.
2.3.2            Respons terhadap musik
Abeles (Hargreaves, 1986) mengatakan bahwa terdapat tiga tahap respons terhadap musik yang dapat diidentifikasi, yaitu:
a.       Respons emosional terhadap musik
Respon emosional adalah mood atau emosi yang dirasakan ketika mendengar musik. Respon emosional merupakan respon yang paling sedikit terjadi internalisasi terhadap musik yang didengar. Pada respon emosional ini pendengar telah memberikan partisipasi aktif terhadap musik yang didengar.
b.      Respons berdasarkan preferensi musik
Respons berdasarkan preferensi musik adalah tindakan memilih, menghargai, atau memberikan prioritas terhadap satu jenis musik dibandingkan jenis musik lainnya.
c.       Respons berdasarkan selera musik
Selera musik merupakan komitmen jangka panjang seseorang terhadappreferensi musiknya, yang ditandai dengan perilaku seperti adanya kebiasaan membeli rekaman-rekaman baik dalam bentuk kaset, compact disc, dan sebagainya.
2.3.3        Musik Vokal
Music vocal, artinya karya music yang dilantunkan dengan vocal. Music vocal lazim pula disebut identik dengan menyanyi, mengingat seni vocal dapat berlaku pula bagi mereka yang mendalami seluk beluk vocal bagi kegiatan drama, MC, dan presenter. Vocal drama sangat jelas sekali. Yang satu musical, yang satu lagi tidak musical. Yang satu lebih bebas bereksplorasi, sedangkan yang satu lagi memiliki keterikatan musical.
Seseorang yang memiliki keinginan menjadi penyanyi amatir, apalagi professional, tidak cukup hanya bermodalkan warna suara yang bagus. Sekalipun memang, warna suara yang khas sangat penting dimiliki oleh seorang penyanyi. Lebih dari itu, ia perlu memiliki wawasan praktis tentang seni music, bahkan wawasan praktis tentang seni music, bahkan wawasan pengetahuan akan seni music. Tidak sedikit kita menemukan seorang MC atau presenter yang saat berbicara atau berbincang-bincang di atas stage suaranya sangat memikat. Namun, begitu ia menyanyi, keadaannya sangat berbeda.
Bagi MC atau presenter mana pun yang memiliki masalah seperti tadi, dianjurkan untuk banyak tahu dan banyak belajar seni music. Sungguh amat disayangkan, apabila modal yang sudah sangat baik itu tidak diasah secara musical. Kalaupun dari pengetahuan dan praktik musical tadi tidak akan membuatnya menjadi penyanyi, namun paling tidak, kegiatan music vokalnya akan sangat membantunya mampu berbicara atau berdialog secara musical.
Kelemanahan yang paling menonjol pada dunia presenter kita, termasuk kebanyakan pemain sinetron serta dramawan kita – saat dirinya tampil – suaranya datar-datar saja, atau kurang memiliki kehangatan intinasi karena kurang terbekali jiwa musiknya.
TEKNIK VOCAL adalah : Cara memproduksi suara yang baik dan benar, sehingga suara yang keluar terdengar jelas, indah, merdu, dan nyaring.
UNSUR-UNSUR TEKNIK VOCAL :
a.       Artikulasi, adalah cara pengucapan kata demi kata yang baik dan jelas. Pernafasan adalah usaha untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, kemudian disimpan, dan dikeluarkan sedikit demi sedikit sesuai dengan keperluan.
b.      Pernafasan di bagi tiga jenis, yaitu :
*      Pernafasan Dada: cocok untuk nada-nada rendah, penyanyi mudah lelah.
*      Pernafasan Perut: udara cepat habis, kurang cocok digunakan dalam menyanyi, karena akan cepat lelah.
*      Pernafasan Diafragma: adalah pernafasan yang paling cocok digunakan untuk menyanyi, karena udara yang digunakan akan mudah diatur pemakaiannya, mempunyai power dan stabilitas vocal yang baik.
*      Phrasering adalah : aturan pemenggalan kalimat yang baik dan benar sehingga mudah dimengerti dan sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku.
*      Sikap Badan : adalah posisi badan ketika seseorang sedang nyanyi, bisa sambil duduk, atau berdiri, yang penting saluran pernafasan jangan sampai terganggu.
*      Resonansi adalah : usaha untuk memperindah suara dengan mefungsikan rongga-rongga udara yang turut bervibrasi/ bergetar disekitar mulut dan tenggorokan.
*      Vibrato adalah : Usaha untuk memperindah sebuah lagu dengan cara memberigelombang/ suara yang bergetar teratur, biasanya di terapkan di setiap akhir sebuah kalimat lagu.
*      Improvisasi adalah usaha memperindah lagu dengan merubah/menambah sebagian melodi lagu dengan profesional, tanpa merubah melodi pokoknya.
*      Intonasi adalah tinggi rendahnya suatu nada yang harus dijangkau dengan tepat.
c.       Syarat-syarat terbentuknya Intonasi yang baik :
Ø  Pendengaran yang baik
Ø  Kontrol pernafasan
Ø  Rasa musical.
Ø  NADA adalah bunyi yang memiliki getaran teratur tiap detiknya.
d.      SIFAT NADA ADA 4 (EMPAT) :
ü  FITCH yaitu ketepatan jangkauan nada.
ü  DURASI yaitu lamanya sebuah nada harus dibunyikan
ü  INTENSITAS NADA yaitu keras,lembutnya nada yang harus dibunyikan.
ü  TIMBRE yaitu warna suara yang berbeda tiap-tiap orang.
ü  AMBITUS SUARA adalah luas wilayah nada yang mampu dijangkau oleh seseorang.
Seorang penyanyi professional harus mampu menjangkau nada-nada dari yang paling rendah sampai yang paling tinggi sesuai dengan kemampuannya.
*      CRESCENDO adalah suara pelan berangsur-angsur keras.
*      DESCRESCENDO adalah suara keras berangsur-angsur pelan.
*      STACATO adalah suara dalam bernyanyi yang terpatah-patah.
e.       SUARA MANUSIA DIBAGI 3 (TIGA) :
Ø  Suara Wanita Dewasa ;
Sopran (suara tinggi wanita)
Messo Sopran (suara sedang wanita)
Alto (suara rendah wanita)
Ø  Suara Pria Dewasa :
Tenor (suara tinggi pria)
Bariton (suara sedang pria)
Bas (suara rendah pria)
Ø  Suara Anak-anak :
Tinggi
Rendah.
TANGGA NADA DIATONIS adalah rangkaian 7 (tujuh) buah nada dalam satu oktaf yang mempunyai susunan tinggi nada yang teratur. Tangga Nada Diatonis Mayor adalah Tangga Nada yang mempunyai jarak antar nadanya 1 (satu) dan ½ (setengah).
Ø  Ciri-ciri tangga nada Diatonis Mayor :
Bersifat riang gembira
Bersemangat
Biasanya diawali dan diakhiri dengan nada Do = C
Mempunyai pola interval : 1 , 1 ,. ½, 1 , 1 , 1, ½
Ø  Ciri-ciri Tangga nada Diatonis Minor :
Kurang bersemangat.
Bersifat sedih
Biasanya diawali dan diakhiri dengan nada La = A
Mempunyai pola interval : 1 , ½ , 1 , 1 , ½ , 1 , 1 .
TANGGA NADA KROMATIS adalah tangga nada yang mempunyai jarak antar nadanya hanya ½ . Contoh : C – Cis – D – Dis- E – F – Fis – G – Gis – A – Ais – B.
TANGGA NADA ENHARMNONIS adalah rangkaian tangga nada yang mempunyai nama dan letak yang berbeda, tetapi mempunyai tinggi nada yang sama. Contoh : Nada Ais-Bes, Cis-Des, Gis-As, Dis-Es, Fis-Ges.
APRESIASI yaitu Totalitas kegiatan yang meliputi penglihatan, pengamatan, penilaian, dan penghargaan terhadap suatu karya seni.
BIRAMA adalah ketukan tetap yang berulang-ulang pada sebuah lagu. Contoh birama : 2/4 , 3/4 , 4/4 , 6/8
PADUAN SUARA adalah Penyajian musik vocal yang terdiri dri 15 orang atau lebih yang memadukan berbagai warna suara menjadi satu kesatuan yang utuh dan dapat menampakan jiwa lagu yang dibawakan.
JENIS-JENIS PADUAN SUARA :
Ø  Paduan Suara UNISONO yaitu Paduan suara dengan menggunakan satu suara.
Ø  Paduan Suara 2 suara sejenis, yaitu paduan suara yang menggunakan 2 suara manusia yang sejenis, contoh : Suara sejenis Wanita, Suara sejenis Pria, Suara sejenis anak-anak.
Ø  Paduan Suara 3 sejenis S – S – A, yaitu paduan suara sejenis dengan menggunakan suara Sopran 1, Sopran 2, dan Alto.
Ø  Paduan Suara 3 suara Campuran S – A – B, yaitu paduan suara yang menggiunakan 3 suara campuran , contoh : Sopran, Alto Bass.
Ø  Paduan suara 3 sejenis T- T – B, yaitu paduan suara 3 suara sejenis pria dengan suara Tenor 1, Tenor 2, Bass.
Ø  Paduan Suara 4 suara Campuran, yaitu paduan suara yang mengguanakan suara campuran pria dan wanita, dengan suara S – A – T – B. Sopran, Alto, Tenor, Bass.
DIRIGEN / CONDUCTOR adalah orang yang memimpin Paduan Suara. Syarat-syarat seorang Dirigen/ Conductor yang baik :
Ø  memiliki sifat kepemimpinan
Ø  memiliki ketahanan jasmani yang tangguh
Ø  sebaiknya sehat jasmani dan rohani
Ø  simpatik
Ø  menguasai cara latihan yang efektif
Ø  memiliki daya imajinasi yang baik
Ø  memiliki pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan bermain musik.
TANDA DINAMIK adalah tanda utuk menyatakan keras, lembutnya sebuah lagu yang dinyanyikan. Contoh-contoh Tanda Dinamik :
Ø  f : forte = keras
Ø  ff : fortissimo = sangat keras
Ø  fff : fortissimo assai = sekeras mungkin
Ø  mf : mezzo forte = setemgah keras
Ø  fp : forte piano = mulai dengan keras dan diikuti lembut
Ø  p : piano = lembut
Ø  pp : pianissimo = sangat lembut
Ø  ppp : pianissimo possibile = selembut mungkin
Ø  mp : mezzo piano = setengah lembut
PERUBAHAN TANDA DINAMIKA :
Ø  Diminuendo (dim) : melembut
Ø  Perdendosi : melembut sampai hilang
Ø  Smorzzande : sedikit demi sedikit hilang
Ø  Calando : mengurangi keras
Ø  Poco a poco : sedikit demi sedikit / lambat laun
Ø  Cresscendo : berangsur-angsur keras
Ø  Decrsescendo : berangsur-angsur lembut
TANDA TEMPO adalah tanda yang diguakan untuk menunjukan cepat atau lambatnya sebuah lagu yang harus dinyanyikan.
TANDA TEMPO CEPAT :
Ø  Allegro : cepat
Ø  Allegratto : agak cepat
Ø  Allegrissimo : lebih cepat
Ø  Presto : cepat sekali
Ø  Presstissimo : secepat-cepatnya
Ø  Vivase : cepat dan girang
TANDA TEMPO SEDANG :
Ø  Moderato : sedang
Ø  Allegro moderato : cepatnya sedang
Ø  Andante : perlahan-lahan
Ø  Andantino : kurang cepat
TANDA TEMPO LAMBAT :
Ø  Largo : lambat
Ø  Largissimo : lebih lambat
Ø  Largeto : agak lambat
Ø  Adagio : sangat lambat penuh perasaan
Ø  Grave : sangat lambat sedih
Ø  Lento : sangat lambat berhubung-hubungan.
PERMATA / CORONA adalah tanda untuk menambah hitungan menurut selera. Ada 3 jenis musik vokal :
Ø  Solo /tunggal
Ø  Paduan Suara Kecil : Duet, Trio, Kwartet, Kwintet, Sextet, dan Septet.
Ø  Opera : perpaduan musik vokal dengan drama
Ø  Paduan suara : Nyanyian yang dibawakan secara bersama-sama/berkelompok
NADA : suara yang beraturan
TANGGA NADA : nada yang telah diatur secara urut berdasarkan tinggi rendahya suara (c-d-e-f-g-a-b-c’)
JENIS ALAT MUSIK :
Melodis
Harmonis
Ritmis
Penyajian musik vocal
Musik Vokal adalah musik yang dalam penyajiannya mengandalkan vokal atau suara manusia. Bentuk musik vokal bermacam –macam, diantaranya adalah bentuk vocal tunggal atau solo vokal , duet vokal, trio vokal, kwartet vokal, Vokal grup, hingga dalam bentuk paduan suara.
Ø  Solo vokal
Adalah bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan hanya oleh satu orang penyanyi.
Ø  Duet
Adalah bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan oleh dua orang penyanyi yang biasanya menggunakan dua melodi suara yang berbeda.
Ø  Trio
Adalah bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan oleh tiga orang penyanyi yang masing-masing sura / melodinya berbeda satu dengan lainnya.
Ø  Kwartet
Adalah bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan oleh empat orang penyayi yang melodinya berbeda.
Ø  Vokal grup
Adalah bentuk penyajian musik vokal yang dilakukan paling sedikit empat orang yang dengan harmoni empat suara dengan diiringi oleh alat musik pengiring. Alat musik pengiring tersebut dapat berupa piano maupun gitar.
Ø  Paduan Suara
Adalah bentuk terbesar dari penyajian musik vokal karena dapat dilakukan oleh minimal 15 orang yang biasanya dibagi menjadi empat suara.
22.4  Terapi Musik
2.4.1        Pengertian Terapi Musik
Terapi musik adalah usaha meningkatkan kualitas fisik dan mental dengan rangsangan suara yang terdiri dari melodi, ritme, harmoni, timbre, bentuk dan gaya yang diorganisir sedemikian rupa hingga tercipta musik yang bermanfaat untuk kesehatan fisik dan mental.
Musik memiliki kekuatan untuk mengobati penyakit dan meningkatkan kemampuan pikiran seseorang. Ketika musik diterapkan menjadi sebuah terapi, musik dapat meningkatkan, memulihkan, dan memelihara kesehatan fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Hal ini disebabkan musik memiliki beberapa kelebihan, yaitu karena musik bersifat nyaman, menenangkan, membuat rileks, berstruktur, dan universal. Perlu diingat bahwa banyak dari proses dalam hidup kita selalu ber-irama. Sebagai contoh, nafas kita, detak jantung, dan pulsasi semuanya berulang dan berirama. Terapi musik adalah terapi yang universal dan bisa diterima oleh semua orang karena kita tidak membutuhkan kerja otak yang berat untuk menginterpretasi alunan musik. Terapi musik sangat mudah diterima organ pendengaran kita dan kemudian melalui saraf pendengaran disalurkan ke bagian otak yang memproses emosi (sistem limbik).Pengaruh musik sangat besar bagi pikiran dan tubuh manusia. Contohnya, ketika seseorang mendengarkan suatu alunan musik (meskipun tanpa lagu), maka seketika orang tersebut bisa merasakan efek dari musik tersebut. Ada musik yang membuat seseorang gembira, sedih, terharu, terasa sunyi, semangat, mengingatkan masa lalu dan lain-lain.
Salah satu figur yang paling berperan dalam terapi musik di awal abad ke-20 adalah Eva Vescelius yang banyak mempublikasikan terapi musik lewat tulisan-tulisannya. Ia percaya bahwa objek dari terapi musik adalah melakukan penyelarasan atau harmonisasi terhadap seseorang melalui vibrasi. Demikian pula dengan Margaret Anderton, seorang guru piano berkebangsaan Inggris, yang mengemukakan tentang efek alat musik (khusus untuk pasien dengan kendala psikologis) karena hasil penelitiannya menunjukkan bahwa timbre (warna suara) musik dapat menimbulkan efek terapeutik.
2.4.2        Manfaat Terapi Musik
Menurut Spawnthe Anthony (2003), musik mempunyai manfaat sebagai berikut:
1.  Efek Mozart, adalah salah satu istilah untuk efek yang bisa dihasilkan sebuah musik yang dapat meningkatkan intelegensia seseorang.
2.  Refresing, pada saat pikiran seseorang lagi kacau atau jenuh, dengan mendengarkan musik walaupun sejenak, terbukti dapat menenangkan dan menyegarkan pikiran kembali.
3.  Motivasi, adalah hal yang hanya bisa dilahirkan dengan “feeling” tertentu. Apabila ada motivasi, semangatpun akan muncul dan segala kegiatan bisa dilakukan.
4. Perkembangan Kepribadian. Kepribadian seseorang diketahui        mempengaruhi dan dipengaruhi oleh jenis musik yang didengarnya selama masa perkembangan.
5.  Terapi, berbagai penelitian dan literatur menerangkan tentang manfaat musik untuk kesehatan, baik untuk kesehatan fisik maupun mental. Beberapa gangguan atau penyakit yang dapat ditangani dengan musik antara lain : kanker, stroke, dimensia dan bentuk gangguan intelengisia lain, penyakit jantung, nyeri, gangguan kemampuan belajar, dan bayi prematur.
6.  Komunikasi, musik mampu menyampaikan berbagai pesan ke seluruh bangsa tanpa harus memahami bahasanya. Pada kesehatan mental, terapi musik diketahui dapat memberi kekuatan komunikasi dan ketrampilan fisik pada penggunanya.
2.4.3        Prosedur Terapi Musik
Terapi musik tidak selalu membutuhkan kehadiran ahli terapi, walau mungkin membutuhkan bantuannya saat mengawali terapi musik. Untuk mendorong peneliti menciptakan sesi terapi musik sendiri, berikut ini beberapa dasar terapi musik yang dapat anda gunakan untuk melakukannya.
1.     Untuk memulai melakukan terapi musik, khususnya untuk relaksasi, peneliti dapat memilih sebuah tempat yang tenang, yang bebas dari gangguan. Peneliti dapat juga menyempurnakannya dengan aroma lilin wangi aromaterapi guna membantu menenangkan tubuh.
2.    Untuk mempermudah, peneliti dapat mendengarkan berbagai jenis musik pada awalnya. Ini berguna untuk mengetahui respon dari tubuh responden. Lalu anjurkan responden untuk duduk di lantai, dengan posisi tegak dan kaki bersilangan, ambil
3.     Saat musik dimainkan, dengarkan dengan seksama instrumennya, seolah – olah pemainnya sedang ada di ruangan memainkan musik khusus untuk responden. Peneliti bisa memilih tempat duduk lurus di depan speaker, atau bisa juga menggunakan headphone. Tapi yang terpenting biarkan suara musik mengalir keseluruh tubuh responden, bukan hanya bergaung di kepala.
4.     Bayangkan gelombang suara itu datang dari speaker dan mengalir ke seluruh tubuh responden. Bukan hanya dirasakan secara fisik tapi juga fokuskan dalam jiwa. Fokuskan di tempat mana yang ingin eneliti sembuhkan, dan suara itu mengalir ke sana. Dengarkan, sembari responden membayangkan alunan musik itu mengalir melewati seluruh tubuh dan melengkapi kembali sel – sel, melapisi tipis tubuh dan organ dalam responden.
5.   Saat peneliti melakukan terapi musik, responden akan membangun metode ini melakukan yang terbaik bagi diri sendiri. Sekali telah mengetahui bagaimana tubuh merespon pada instrumen, warna nada, dan gaya musik yang didengarkan, responden dapat mendesain sesi dalam serangkaian yang telah dilakukan sebagai hal yang paling berguna bagi diri sendiri.
6.   Idealnya, peneliti dapat melakukan terapi musik selama kurang lebih 30 menit hingga satu jam tiap hari, namun jika tak memiliki cukup waktu 10 menitpun jadi, karena selama waktu 10 menit telah membantu pikiran responden beristirahat (Pandoe,2006).
2.4.4        Hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Terapi Musik
Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam terapi musik :
1.     Hindari interupsi yang diakibatkan cahaya yang remang-remang dan hindari menutup gorden atau pintu.
2.     Usahakan klien untuk tidak menganalisa musik, dengan prinsip nikmati musik ke mana pun musik membawa.
3.     Gunakan jenis musik sesuai dengan kesukaan klien terutama yang berirama lembut dan teratur. Upayakan untuk tidak menggunakan jenis musik rock and roll, disco, metal dan sejenisnya. Karena jenis musik tersebut mempunyai karakter berlawanan dengan irama jantung manusia.
2.4.5        Terapi Musik Klasik untuk Anak Autis
Usia antara 2 – 5 tahun adalah usia yang sangat ideal untuk memulai menangani autisme (Hadis,2006). Salah satu bentuk penanganan terhadap autis adalah terapi musik yang kini banyak dipakai untuk anak – anak autis dan mereka yang memiliki kesulitan belajar. Spesialis musik terapi, Robbin, nordoff dalam Holmes (2003) mengklaim bahwa anak yang frustasi, seperti halnya anak autis, energinya akan meningkat ketika bermain musik.
Hal senada dituturkan oleh seorang psikolog, Alfa handayani dalam Hidayat (2003) “Musik mampu meningkatkan pertumbuhan otak anak karena musik itu sendiri merangsang pertumbuhan sel otak. Musik bisa membuat kita rileks dan senang hati, yang merupakan emosi positif. Emosi positif inilah membuat fungsi berfikir seseorang menjadi maksimal”. Seorang anak yang sejak kecil terbiasa mendengarkan musik akan berkembang kecerdasan emosional dan intelegensinya dibandingkan dengan anak yang jarang mendengarkan musik (Christanday,2007).
Salah satu Trend & Issue saat ini mengenai terapi musik klasik adalah efek Mozart. Campbell mendefinisikan efek Mozart sebagai  berikut ;“The Mozart Effect is an inclusive term signifying the transformational powers of music in health, education, and well-being. It represents the general use of music to reduce stress, depression, or anxiety; induce relaxation or sleep; activate the body; and improve memory or awareness. Innovative and experimental uses of music and sound can improve listening disorder, dyslexia, attention deficit disorder, autism, other mental and physical disorders.
22.5  Kerangka Berpikir



BAB III
METODE PENELITIAN

3.1  Pendekatan dan rancangan Penelitian
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Keterlibatan dan interaksi peneliti kualitatif dengan realitas yang diamatinya merupakan salah satu ciri mendasar dari metode penelitian ini. Jary and Jary mendefinisikan istilah qualitative research techniques sebagai setiap penelitian dimana ilmuwan sosial mencurahkan kemampuan sebagai pewawancara atau pengamat empatis dalam rangka mengumpulkan data yang unik mengenai permasalahan yang ia investigasi, lihat David Jary and Julia Jary, Dictionary of Sociology, (Glasgow: HarperCollins Publishers, 1991), hlm. 513.
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus. Pada buku edisi kedua Creswell, Qualitative Inquiry & Research Design Choosing Among Five Approaches, dikatakan bahwa penelitian studi kasus melibatkan studi dari masalah yang dieksplorasi melalui satu atau lebih kasus dalam sistem dibatasi (yaitu, pengaturan, konteks). Saya memilih untuk melihatnya sebagai metodologi, jenis desain kualitatif penelitian, atau objek studi, serta produk dari penyelidikan. Kasus penelitian studi adalah pendekatan kualitatif di mana peneliti mengeksplorasi suatu kasus atau beberapa dari waktu ke waktu, secara terperinci, pengumpulan data yang mendalam, melibatkan berbagai sumber informasi (misalnya, observasi, wawancara, materi audiovisual, dan dokumen dan laporan), dan laporan deskripsi kasus serta tema berbasis kasus. (Creswell, 2007). Creswell menyebutkan betapa dekatnya metode ini dengan peneliti peneliti bidang sosial,  psikologi, hukum (kasus hukum), dan ilmu politik (laporan kasus). Beberapa prosedur yang di simpulkan Creswell dari tulisan ( Merriam, 1998; Stake, 1995; Yin, 2003).
3.2  Sumber Data Penelitian
Sumber data dari penelitian ini adalah menggunakan sumber data primer. Dimana peneliti akan melakukannnya sendiri dan meneliti secara langsung. Menurut Umar (2003 : 56), data primer merupakan data yang diperoleh langsung di lapangan oleh peneliti sebagai obyek penulisan. Metode wawancara mendalam atau in-depth interview dipergunakan untuk memperoleh data dengan metode wawancara dengan narasumber yang akan diwawancarai.

3.3  Instrumen Penelitian
Instrumen penelitian adalah alat atau fasilitas yang digunakan peneliti dalam mengumpulkan data agar pekerjaannya lebih mudah dan hasilnya lebih baik, dalam arti cermat, lengkap dan sistematis sehingga mudah diolah, Sujarweni (2014:76). Sedangkan menurut Arikunto (2010:192) instrumen adalah alat pada waktu penelitian menggunakan suatu metode.
Dengan penggunaan penelitian kualitatif deskriptif, maka perlu dicantumkan pedoman wawancara bagi peneliti. Instrumen penelitian:
PEDOMAN WAWANCARA
*      Orang Tua Siswa
-          Bagaimana kondisi anak ketika lahir.
-          Bagaimana perkembangan anak ketika bayi
-          Apakah gejala yang ditunjukkan sebagai identifikasi autis
-          Apa motivasi orang tua
-          Bagaimana mengembangkan kemampuan sosial komunikasi anak
-          Apakah dengan musik, kondisi anak dapat terkendali/membaik.
*      Guru Musik
-          Apakah kesulitan yang dihadapi
-          Bagaimana kondisi kemampuan anak
-          Bagaimana perkembangan yang ditunjukkan anak
-          Seberapa antusias anak mengikuti terapi ini
3.4  Teknik Pengumpulan Data
Data adalah bahan-bahan kasar (mentah) yang dikumpulkan peneliti dan lapangan yang ditelitinya juga merupakan bahan-bahan spesifik yang menjadi lapangan dalam melakukan analisis.
Menurut Sujarweni (2014:74) teknik pengumpulan data merupakan cara yang dilakukan peneliti untuk mengungkap atau menjaring informasi kuantitatif dari responden sesuai lingkup penelitian. Adapun teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah :
1.      Wawancara
Menurut Esterberg (2002) : Wawancara adalah merupakan pertemuan antara dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab sehingga dapat dikontruksikan makna dalam suatu topik tertentu.
2.      Observasi
Menurut Arikunto (2010:199) observasi atau yang disebut pula dengan pengamatan, meliputi kegiatan pemusatan perhatian terhadap sesuatu objek dengan menggunakan seluruh alat indra. Jadi, mengobservasi dapat dilakukan melalui penglihatan, penciuman, pendengaran, peraba, dan pengecap. Apa yang dikatakan ini sebenernya adalah dapat dilakukan dengan tes, kuisioner, rekaman gambar, rekaman suara.
3.      Dokumentasi
Dokumentasi berasal dari kata dokumen, yang artinta barang-barang tertulis. Di dalam melaksanakan metode dokumentasi, peneliti menggunakan metode dokumentasi berupa foto selama kegiatan pembelajaran dalam menggunakan terapi musik vokal dengan menyanyi dan membaca teks lagu untuk meningkatkan kemampuan sosial – komunikasi anak autis.
3.5  Teknik Analisis Data
Menurut Sugiyono (2009:244) analisis data adalah proses mencari dan menyusun data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan - bahan lain secara sistematis sehingga mudah dipahami dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain. Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis teori induksi dan reduksi data.
1.      Teori Induksi
Peneliti harus memfokuskan perhatiannya pada data yang dilapangan sehingga segala sesuatu tentang teori yang berhubungan dengan penelitian menjadi tak penting. Data akan menjadi sangat penting, sedangkan teori akan dibangun berdasarkan temuan data di lapangan. Data merupakan segalanya yang dapat memecahkan semua masalah penelitian. Posisi peneliti benar-benar bereksplorasi terhadap data, dan apabila peneliti secara kebetulan telah memiliki pemahaman teoritis tentang data yang akan di teliti, proses pembuatan teori itu harus dilakukan. Peneliti berkeyakinan bahwa data harus terlebih dahulu di peroleh untuk mengungkapkan misteri penelitian dan teori baru akan di pelajari apabila seluruh data sudah diperoleh (Bungin, 2001: 31).
2.      Reduksi data
Analisis data dalam penelitian berlangsung bersamaan dengan proses pengumpulan data. Diantaranya adalah melalui reduksi data, penyajian data, dan verifikasi. Namun, ketiga tahapan tersebut berlangsung secara simultan. Analisis data ini digambarkan seperti berikut :



DAFTAR PUSTAKA
Handoyo. Y. 2009. Autisme pada Anak. Jakarta : PT Bhuana Ilmu Populer
American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders 5th (DSM-V). Washington: American Psychiatric Association. 
Peeters, Theo. 1998. Autism From Theoritical Understanding to Educational Intervention. London : Whurr Publisher Ltd.
Pusponegoro, Hartono D. 2003 Pandangan Umum mengenai Klasifikasi Spektrum  Gangguan Autistik dan Kelainan Susunan saraf Pusat (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I
Sasanti,  Yuniar. 2003. Masalah Perilaku pada Gangguan Spektrum Autism (GSA) (makalah), Jakarta: Konferensi Nasional Autisme-I
Charman, Tony & Wendy Stone. 2006. Social and Communication Development in Autism Spectrum Disorders. New York: A Division of Guilford Publications, Inc.
Azwandi, Yosfan (2005).Mengenal dan Membantu Penyandang Autisme. Jakarta : Direktorat Pembinaan Pendidikan Tenaga Kependidikan dan Ketenagaan PerguruanTinggi

Bandi Delphie.(2009) Pendidikan Anak Autis., Sleman: KTSP.

Chris William dan Barry Wright,(2004). How to live with Autis and Asperger Syndrom. Terj. Dian Rakyat, Jakarta : 2004

Handojo. ( 2003) . Autisma: Petujuk Praktis dan Pedoman Materi Untuk Mengajar Anak Normal, Autis dan Perilaku lain, Jakarta : PT Buana Ilmu Populer.

Martin Hanbury, (2005). Educating Pupils with Autistic Spectrum Disorder (A Practical Guide).London: Paul Chapman Publishing

Muhammad, Arni.2005. Komunikasi Organisasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Rini Hildayani, dkk., (2009). Penanganan Anak Berkelainan (Anak Dengan Berkebutukan Khusus). Jakarta: Universitas Terbuka
Rainbow Centre Training and Consultancy (2009). Cours Hand Book-Special Esducation Needs Teacher Course Autis Spectrum Disorder.  Singapore : Reinbow Centre


Yurike fauzia Wardhani, dkk. (2009). Apa dan bagaimana Autise Terapi Medis Alternatif, Jakarta: Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia